PDIP, Golkar dan Komitmen Kebangsaan


PDIP, Golkar dan Komitmen Kebangsaan
Hendardi
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute

Kamis, 19 Juni 2008

Partai-partai politik dan tokoh-tokohnya ternyata masih mendapat perhatian di kalangan muda berusia 17-22 tahun, sebagaimana hasil survei yang dilakukan SETARA Institute, diluncurkan awal Juni yang lalu. Survei yang bersumber dari 800 responden ini pun menunjukkan persetujuan kaum muda atas Pancasila sebagai perekat nilai-nilai kebangsaan. 

Kaum muda juga masih percaya terhadap partai politik dan sejumlah elite politik yang berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman. Mereka berharap nilai-nilai keberagaman (pluralisme) dan kebangsaan tidak dicederai atau dirusak hanya karena perbedaan suku atau etnis, agama atau aliran keyakinan, dan perbedaan pendapat. 

Partai-partai yang dipercayai memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan adalah PDI Perjuangan dengan 21 persen responden dan Partai Golkar dengan 17 persen responden. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masing mendapat 12 persen responden. 

Pandangan kaum muda mengenai partai politik yang mempunyai komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan berbeda dengan tokoh politiknya. Partai Demokrat, partainya SBY–di mana SBY popularitasnya naik–ternyata hanya mendapat 11 persen, sama halnya dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

Kaum muda tampaknya lebih mengacu pada partai-partai besar yang banyak menduduki kursi di parlemen. Mereka juga yang banyak melakukan belanja maupun komunikasi politik yang diliput media massa. 

Hasil survei tersebut juga menunjukkan, dua tokoh politik yang mendapat perhatian paling banyak dari responden mengenai komitmen mereka terhadap nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan adalah Susilo Bambang Yudhoyono (23% responden) dan Megawati (18% responden). Tingginya popularitas Yudhoyono disebabkan yang bersangkutan masih menjabat sebagai presiden, sehingga publik banyak melihat aktivitas melalui berbagai media massa. 

Beberapa tokoh lain yang mendapat perhatian kaum muda adalah Sri Sultan Hamengku Buwono, Wiranto, dan Hidayat Nur Wahid. Tapi, popularitas mereka masih berada di bawah kedua tokoh yang masih menjabat presiden dan pernah menjabat presiden tersebut. 

Mengenai calon presiden dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang, kaum muda juga lebih menyukai SBY dan Megawati, dengan masing-masing memperoleh 21 persen dan 19 persen responden. Sementara itu, Sultan Hamengku Buwono menduduki peringkat ketiga dengan 11 persen responden. Tokoh-tokoh politik lainnya berada di bawahnya. 

Tampaknya kaum muda masih respek terhadap tokoh-tokoh politik yang selama ini banyak tampil di berbagai acara politik dan kenegaraan. Bisa jadi, keberadaan dan peran media massa cukup membantu elite politik dalam meraih popularitas politiknya.***


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us


Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i

Pesan Damai Islam


Pesan Damai Islam
Tarmizi Taher
Ketua Umum Pimpinan Pusat
Dewan Masjid Indonesia

Jumat, 6 Juni 2008

Kontribusi Islam untuk perdamaian di dunia dan di regional demikian besar dalam sejarah umat manusia. Allah SWT menciptakan manusia untuk saling mengenal dan hidup dalam damai. Akan tetapi, amat disayangkan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok massa yang gaya penampilannya terlihat layaknya Muslim yang saleh, tetapi aksinya jauh dari kesalehan. 

Padahal, di Asia Tenggara, Islam berakar dan menyebar dengan relatif damai. Penduduk lokal berpandangan bahwa Islam adalah agama kesucian, sebagaimana para pedagang Islam di India yang memakai pakaian bersih sambil memperkenalkan agama. Penduduk lokal melihat Islam sebagai agama bagi kemajuan ekonomi yang dibawa ke Malaysia dan Indonesia oleh para pedagang kaya. 

Singkatnya, penduduk Hindu melihat Islam sebagai agama orang yang lebih beradab. Islam juga mengajarkan kesetaraan (equality) di kalangan masyarakat. Setiap orang setara di hadapan Allah, kecuali dalam kualitas iman dan ketaatan mereka kepada Allah. Doktrin kesetaraan ini “menyerang” basis sistem kasta Hindu, yang mempercepat konversi damai dan sukarela masyarakat lokal Hindu ke Islam (abad ke-13 s.d.16). 

Karena itu, kelompok itu perlu menyadari bahwa Islam, seperti agama-agama lain, mengajarkan nilai-nilai yang mulia mengenai perdamaian dan cinta kepada umat manusia. Harus sadar akan fakta bahwa sebagaimana agama yang lain yang benar, terdapat keragaman luar biasa dalam Islam. Islam mewujudkan dirinya di berbagai negara yang berbeda-beda, dalam tradisi budaya yang beragam, dan dalam konteks etnis, ekonomi, dan politik yang berbeda pula. 

Kaum Muslim juga perlu menghasilkan literatur guna mengetengahkan pemahaman tentang Islam. Kaum Muslim di tingkat nasional perlu menyadari keragaman mereka, baik secara doktrinal maupun politik. Lebih dari itu, bangsa-bangsa dengan mayoritas Muslim harus tanggap terhadap aspirasi minoritas non-Muslim atau aspirasi politik dan kesetiaan golongan yang berbeda. 

Kaum Muslim memang tengah berhadapan dengan masalah, apakah harus melaksanakan ajaran agamanya secara ketat dengan menghindari tindakan kekerasan atau mengusahakan terwujudnya satu lembaga keadilan untuk memecahkan perbedaan-perbedaan politik dalam negeri. Kegagalan melaksanakan cara-cara damai dalam memecahkan persoalan dalam negeri ini bisa dengan mudah menghasilkan citra internasional Islam yang negatif. 

Setiap manusia dituntut untuk berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Maka, masyarakat dan komunitas Muslim yang terbuka serta yang bisa saling melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan intropeksi (wa tawasau bil al-haqq wa tawasau bil al-shabr) adalah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh kedua prinsip Islam: moralitas dan keadilan. Dan, tatanan masyarakat ini sangat menekankan pada inklusivitas dan bukan masyarakat yang eksklusif. Karena, istilah “keadilan” itu sendiri mencerminkan tatanan masyarakat madani, beradab, dan penuh perdamaian: bukan kekerasan.***


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us


Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i