Dibalik Kontroversi SKB

Serambi Indonesia.
Selasa, 17 Jun 2008 | 15:50:23 WIB ARSIP

Opini  
17/06/2008 11:02 WIB
Dibalik Kontroversi SKB 

[ penulis: Muhibin AM | topik: Agama ]

Surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, berkait ajaran Ahmadiyah, Senin (9 Juni 2008) telah dikeluarkan oleh pemerintah, dengan ketentuan tidak membubarkan Ahmadiyah. Ini kemudian menimbulkan kontroversi. Pada satu sisi, ada sekelompok ormas Islam yang menuntut pembubaran Ahmadiyah, dan SKB
yang baru saja dikeluarkan pemerintah ini dinilai sebagai keputusan “banci” karena tidak memiliki keberanian, Sisi lain ada kelompok yang mengangap bahwa SKB tiga menteri itu, merupakan jalan
paling moderat supaya tidak terjadi diskriminasi terhadap bangsanya sendiri. 

SKB Nomor 3/2008, no kep-033/A/JA/6/2008, no 199 tahun 2008, pada 9 Juni lalu dikeluarkan,
bukan untuk menghakimi Ahmadiyah secara sepihak. Pembubaran Ahmadiyah dinilai bukan tidak saja akan menimbulkan banyak permasalahan baru yang lebih besar, namun upaya pemerintah mengeluarkan SKB ini agar para Jemaat Ahmadiyah, baik yang Lahore maupun Qodian kembali kepada jalan Islam yang benar, sesuai ajaran Islam yang murni dengan tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah nabi Muhammad saw. 

Kelompok yang paling loyal untuk mempertahankan keberadaan Ahmadiyah, di antaranya Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang tetap mendesak kepada pemerintah untuk tidak membubarkan Ahmadiyah. Bahkan Gusdur sendiri akan menuntut melalui jalur hukum jika pemerintah mengikuti kehendak kaum fundamental
untuk membubarkan Ahmadiyah . Sementara kelompok fundamental yang juga tak kalah loyalnya tetap menuntut pembubaran Ahmadiyah, adalah ormas-ormas Islam yang lebih mengedepankan jalan kekerasan yang di antaranya diantaranya seperti Front Pembela Islam (FPI), pimpinan Habib Riziek Shihab yang saat ini masih ditahan, Forum Umat Islam (FUI), Hizbuttahrir Indonesia, Ikhwanul Muslimin Indonesia dan
Laskar Jihad pimpinan Abu Bakar Ba’asyir serta beberapa ormas Islam lainnya. 

 Setidaknya dengan adanya pro-kontra dari kedua kubu tersebut kita dapat belajar pada sejarah ormas-ormas Islam yang telah dibubarkan oleh pemerintah. Terutama kepada golongan yang sangat kontra terhadap SKB ini, agar nantinya kita akan memahami bahwa pembubaran atas ormas Islam yang dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam merupakan jalan yang tidak akan dapat memberikan penyelesaian untuk menyelamatkan ajaran Islam itu sendiri. Apalagi pembubaran dilakukan dengan jalan kekerasan, yang
akan semakin menambah solidnya organisasi terebut. 

Salah satunya organisasi/ aliran Islam yang pernah dibubarkan adalah Islam Jamaah yang kemudian berubah
nama menjadi LEMKARI (1972), selanjutnya berubah menjadi LDII (1990). Sampai saat ini organisasi itu masih eksis bahkan semakin berkembang dengan berdirinya ratusan bahkan ribuan pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh tanah air Indonesia. Perjalanan sejarah Gerakan Islam yang menamakan Islam jamaah ini didirikan oleh Madigol Kadzdzab (Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir) pada tahun
1951, yang selanjutnya pada tahun 1971 gerakan ini dilarang oleh pemerintah dengan dikeluarkannya SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971, yang berarti pembubaran
atas gerakan Islam Jamaah ini. Pasca-pembubaran Islam Jamaah/ Darul Hadist 1971, pada tahun 1972 lahir kembali dengan nama Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) yang dideklarasikan pada tanggal 13 Januari
1972. Namun dengan adanya UU No. 8 tahun 1985, LEMKARI sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai MUBES II tahun 1981 berganti nama dengan Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat juga
LEMKARI (1981). Dan kemudian berganti nama lagi sesuai keputusan konggres/muktamar LEMKARI tahun 1990 dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang hingga saat ini masih dapat dilihat oleh
mata kepala kita. 

Saya melihat perjalanan sejarah pembubaran suatu ormas Islam yang dianggap telah keluar dari jalan
kebenaran Islam, tidaklah dapat menyelesaikan persoalan. Pembubaran hanya akan meredam sementara waktu. Mungkin tidak salah jika K.H Abdurrahman Wahid tetap mempertahankan Ahmadiyah sebagai sebuah
ormas Islam yang ada di Indonesia. Karena sebenarnya yang dikehendaki oleh Gusdur ini bukanlah pembekuan atau pembubaran, namun bagaimana pemerintah melalui MUI dan departeman agama
meluruskan jalan mereka dan membimbing mereka kepada ajaran-ajaran Islam yang benar. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) hendaknya jangan hanya memberi fatwa-fatwa yang pada akhirnya banyak
menimbulkan kekerasan. Dan justru kekerasan atasnama agama muncul setelah MUI mengeluarkan fatwa-fatwanya. Dan jangan heran bila Gusdur sendiri menghendaki dibubarkannya MUI, yang dinilai semua
keputusan-keputusannya sangat bias dan terlalu potensial dengan kekerasan. 

Bahwa kekerasan apapun untuk membubarkan sebuah organisasi tidak akan dapat menyelesiakan
masalah. Apa yang telah dilakukan oleh FPI yang selama ini sangat getol menuntut pembubaran Ahmadiyah tidak akan dapat mematikan gerakan ini. Apakah mereka akan melakukan kekerasan yang sama jika
Ahmadiyah dibubarkan yang kemudian mendirikan kembali dengan nama ormas lain, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Islam Jama’ah dengan beberapa kali berganti nama. Jangan sampai ada lingkaran
kekerasan berantai yang menimpa bangsa ini. Maka Jalan terbaik adalah dengan membimbing mereka kejalan yang benar, bukan memerangi atau melarang kegiatan-kegiatan mereka. Dan tentunya sesuai dengan hukum yang berlaku, pemerintah harus tetap melindungi rakyatnya dari segala ancaman tanpa bersikap parsial sesuai dengan UUD1945. Mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Komaruddin Hidayat, jika ada sahabat kita yang tersesat di jalan, maka jangan engkau pukuli dia, Tapi tunjukkanlah jalannya dan tuntunlah sahabatmu itu hingga ia tahu jalan yang ditujunya. 

 *) Penulis adalah peneliti pada KUTUB Institute Yogyakarta

Iklan

2 Tanggapan

  1. Masalahnya ahmdiyah bukanlah ormas atau partai Islam melainkan aliran yang menyimpang dari Islam dimana mempunyai Nabi setelah nabi Muhammad Saw.

    Ahmadiyah berbeda masalahnya dengan berbagai ormas dan partai di indonesia akidahnya mereka semua sama.

    Mulai dari NU, Muhammadiyyah, Persis, Al Irsyad, HTI, MMi, jamaah Tabbligh dll, mereka smua sama akidahnya, mungkin berbeda masah fiqih furuknya saja.

    Jadi ahmadiyah bukan bagian dari Islam,

  2. saya sangat setuju dengan artikel di atas, hidup gus dur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: