Analisis Kekuatan Islam Politik Dari Kolonial sampai Reformasi

Analisis Kekuatan Islam Politik Dari Kolonial sampai Reformasi

(sumber: Milis AIPI_POLITIK)


Sejarah perjalanan bangsa Indonesia dilalui dengan penuh pengorbanan
darah dan air mata perjuangan mayoritas umat islam. Baik itu
menentang penjajahan bangsa Belanda dan Jepang maupun menentang
kezaliman penguasa bangsa sendiri. Islam politik adalah kekuatan umat
islam Indonesia yang memakai islam sebagai ideologi perjuangan
menentang kezaliman tirani. Islam politik telah ada sejak berdirinya
kesultanan-kesultan an islam di Indonesia. Banten merupakan salah satu
pusat kesultanan islam politik. Di kesultanan ini pernah ada sebuah
perjuangan yang hebat dari seorang ulama tarekat yang kharimatis yang
bernama Syekh Yusuf Al Makassari bersama sultan Ageng Tirtayasa dan
Pangeran Purbaya. Setelah ditangkap Syekh Yusuf pun masih melakukan
perjuangan dengan cara menyebarkan tulisan yang berisi ajakan untuk
memerangi kafir dimana saja kepada para haji yang singgah ditempat
pengasingannya.


Memasuki abad ke 20 islam politik secara internasional mulai
kelihatan bangkit karena adanya gejolak di tanah suci dan kepentingan
Khilafah Turki Ustmani. Sebuah slogan dalam pemikiran Islam yakni Pan
Islamisme. Pan Islamisme adalah sebuah gerakan untuk persatuan kaum
muslimin seluruh dunia untuk melawan setiap penindasan Imperialisme
dan kapitalisme. Dengan adanya perlawanan kekuatan Islam politik,
maka pemerintah melakukan apa yang dinamakan kebijakan Politik Islam
kepada umat islam. Dalam Politik islam Hindia Belanda umat islam
diaharapkan hanyut dalam ibadah formal yaitu salat, puasa,dll. Tetapi
kalau sudah menyangkut islam politik pemerintah hindia Belanda
bertindak tegas. Para calon haji diwajibkan membeli tiket kapal
pulang pergi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi para haji agar
tidak terkontaminasi dengan ide-ide radikal di tanah suci. Dan para
alumnus haji sepulang dari tanah suci diawasi agar jangan sampai
menyebarkan hasutan kebencian kepada rakyat terhadap pemerintah
Belanda. Berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1912 lalu
berganti nama menjadi Sarekat Islam adalah sebuah upaya menumbuhkan
kesadaran politik Indonesia secara nasional untuk berjuang. Sarekat
islam berkembang secara nasional dengan angggota dari golongan kelas
menengah atas sampai dengan kelas bawah masyarakat Indonesia. Namun
akibat infiltrasi komunis, SI harus melemah karena menerapkan
disiplin partai. Setelah merubah nama menjadi Partai Sarekat Islam
(PSI) lalu Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) ideologi SI menjadi
nasionalisme Islam, namun partai ini belum dapat menjadi besar
kembali dikarenakan kepentingan pribadi para pemimpinnya yang berebut
jabatan. Meletusnya pemberontakan PKI 1926 di Banten dan 1927 di
Padang pun memakan korban Umat Islam yang terkenal dengan Haji Merah
yang selanjutnya oleh Idenburg dikirim ke neraka Digul Irian Jaya.
Sedangkan petinggi dari partai komunis baik yang pro maupun kontra
pemberontakan menjalani hukuman yang ringan, yaitu eksternir keluar
Indonesia .


Memasuki pasca proklamasi masa revolusi fisik terbentuklah sebuah
federasi kekuatan Islam Indonesia dalam sebuah partai yang bernama
Masyumi. Masyumi menjadi kekuatan terbesar memiliki sayap militer
Hizbullah. Disisi lain ada Partai Sosialis Indonesia fusi dari SosKa
(Sosialis Kanan Sjahrir) dan KomGa (Komunis Gadungan Amir Syarifudin)
yang juga merupakan partai terbesar yang memilii sayap militer yang
bernama Pesindo . Pasca perundingan Renville Hizbullah dan Pesindo
terkubur mati karena dipakai untuk memberontak kepada pemerintah oleh
oknum-oknum partai yang memakainya demi kepntingan politik yang
menjijikkan (pribadi). Dua pemberontakan itu adalah DI/TII
Kartosuwiryo Jawa Barat dan pendukung-pendukung di daerah dan
Pemberontakan PKI Musso Amir dengan FDR-nya di Madiun.
Dimasa demokrasi Liberal Masyumi sebagai kekuatan Islam politik masih
menjadi kekuatan terbesar disamping PNI. Namun akhirnya menjadi
melemah setelah keluarnya NU dari Masyumi . Hasil pemilu 1955
menujukkan kaum islam politik yang diwakili Mayumi dan NU masih
menjadi yang terbesar. Sisi positif dari masyumi adalah menjadi
partai nasional bersama PSI dalam hal ukuran jumlah suara pemilih
Jawa dan Luar Jawa. Adanya kemelut politik membuat PKI mulai menjadi
partai massa yang besar, terlihat dengan adanya pemilu daerah di Jawa
dimana PKI memenangkan mayoritas suara. Kekuatan islam politik
kembali tercederai dengan munculnya sebuah gerakan yang di pelopori
oleh para WarLords di daerah Luar Jawa, yaitu PRRI dan Permesta. Yang
lebih fatalnya Oknum Masyumi berkerjasama dengan Oknum PSI mendukung
Pemberontakan anti komunis, namun nyatanya ditunggangi oleh kekuatan
asing, yaitu CIA Amerika Serikat. Disaat bersamaan sidang konstituate
mandeg dalam hal perdebatan dasar negara. Secara kesimpulan awal
memang islam politik yang diwakili NU dan Masyumi dan beberapa partai
islam kecil lainnya menang. Namun disisi lain kekuatan PNI yang
notabene sebuah partai sekuler bersatu dengan PKI yang komunistis.
Hal ini berkepangjangan dengan masa resesnya konstituante untuk batas
yang tidak ditentukan Adanya pemeberontakan PRRI dan Permesta serta
resesnya Kostituante membuat Soekarno dengan leluasa menerapkan
politik Islamnya kepada Umat islam Indonesia. Hal yang paling
mematikan kekuatan Islam politik adalah pembubaran partai Masyumi
oleh Soekarno. Soekarno mulai merangkul islam politik dengan
romantisme masa mudanya yakni NASAKOM (NASionalis Agama KOMunis) .
Lalu terejawantahkan dalam salah satu butir isi dari Dekrit Presiden
5 Juli 1959 yang menyatakan bahwa kembali ke UUD-1945 yang dijiwai
Piagam Jakarta. Timbulnya pertanyaan dari kita apabila mau kritis,
sebenarnya yang menjadi jiwa UUD-1945 Piagam Jakarta-kah? Atau
pancasila-kah atau kedua-duanya? . Jiwa sendiri adalah software dari
penggerak hardware, apabila hardware masih berjalan software tidak
berarti menjadi mayat hidup, gila. Namun sejarah mencatat ini adalah
hanyalah taktik Soekarno untuk merangkul kekuatan islam politik, dan
NU akhirnya kecantol. Namun realitasnya pancasila sila keempat lebih
menjadi jiwa konstitusi Soekarno dalam menjalankan pemerintahan yang
pada akhirnya menjatuhkannya sendiri akibat peristiwa G 30 S/PKI
tahun 1965.


Orde Baru terbentuk atas dukungan besar umat Islam Indonesia yang
anti komunis. Era baru atau Orde Baru terlihat ada peluang untuk
islam politik yang diwakili ex Masyumi untuk unjuk gigi. Dan ada
sebuah kekuatan islam politik lain, yaitu dari sang Moh Hatta dan
Deliar Noer yang mendirikan Partai Demokrasi Islam, namun tak
diizinkan oleh Soeharto. Akhirnya berdiri Parmusi (Partai Muslimin
Indonesia) yang diizinkan oleh Orde baru, namun yang duduk dalam
pimpinannya adalah orang yang dekat dengan Orde Baru. Moh Roem
seorang tokoh kawakan ex Masyumi diabatalkan sebagai pimpinan partai
ini. Dalam pemilu pertama terlihat Parmusi tidak berarti apa-apa
masih kalah dengan NU. Selanjutnya untuk membendung kekuatan islam
politik Orde baru memfusikan partai-partai islam secara paksa dalam
sebuah Partai baru yang Bernama Partai Paersatuan Parjuangan (PPP).
Disisi orde Baru memperkuat Sekretariat Bersama era Orde Lama dengan
membentuk Golongan Karya bukan partai tapi lebih kuat dari partai.
Bahkan sayap pemuda dari partai islam yaitu HMI dipakai oleh orde
baru sebagai salah satu tempat pengkaderan Golkar sampai sekarang.
Penerapan asas tunggal kepada partai politik menyebabkan sebuh
peristiwa berdarah Tanjung Priok dan Lampung. Politik keras Orde Baru
tambah mendapat angin besar setelah seorang Nurcholis Madjid membuat
pernyataan Islam Yes dan Partai Islam No. Hal ini dikuti pula dengan
Kelompok mahasiswa Cipayung (HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI) yang
mendukung pancasila sebagai asas tunggal. Golkar banyak dipilih oleh
umat islam yang opportunis- pragmatis yang berbudaya politik dan umat
islam yang buta politik atau belum berbudaya politik. Golkar sendiri
banyak melakukan recall kepada calon legislatifnya yang dianggap
menetang garis kebijakan Orde Baru. Berbeda dengan bidang politik
dibidang Sosial,Budaya, dll pemerintah Orde Baru mengaspirasi
kepentingan umat islam. Hal ini terlihat dengan berdirinya berdirinya
mesjid-mesjid, sekolah-sekolah islam dan pensubsidian pesantren, dsb.
Hal ini adalah keuntungan umat islam dalam menkonsolidasi diri untuk
kembali melahirkan sebuah kekuatan islam politik. Hal ini terbukti
dengan hidupnya kehidupan keagamaan (puritanisasi) dikampus-kampus
sentral seperti UI dan ITB tahun 1980-an yang lama-kelamaan mengerti
budaya politik dan akhirnya kelak setelah mereka lulus menjadi
kekuatan islam politik dalam menurunkan Orde Baru- Soeharto
Runtuhnya Uni-Soviet dan pertentangan Soeharto dengan L.B.Murdani
membuat haluan politik Soeharto berubah perlahan, terlihat pasca
Sidang Umum 1988. Berlanjut menjadi jelas pada awal tahun 1990-an,
ketika Soeharto membentuk ICMI, naik Haji dan kunjungan ke Bosnia, UU
perkawinan Islam, pendirian Bank Muamalat, dsb. Disisi lain Soeharto
dengan Golkarnya mulai menempatkan orang-orang muda dari islam
seperti Akbar Tanjung, Abdul Gaffur, Din Samsudin, B.J.Habibie dan di
bidang militer soeharto mulai melirik ABRI Hijau disamping tetap
bermain dengan ABRI Merah Putih. Yang paling dikritik adalah ICMI
yang terbentuk dengan tujuan baik, namun dipakai untuk menopang
fundamen dari Orde Baru yang telah mulai keropos. Dikritiklah ICMI
sebagai Ijo royo-royo oleh Gus Dur.


Tak dapat dipungkiri Orde baru runtuh oleh kekuatan Islam Politik dan
sekuler yang tidak terakomodasi lagi kepentingan politiknya oleh
Soeharto.Reformasi memberi sebuah harapan bagi politik islam
Indonesia Unjuk gigi perlahan. Hal ini terbukti pada Pemilu 1999
partai islam PPP, PBB (Partai Bulan Bintang) dan PK (Partai Keadilan)
mendapat suara yang lumayan. Konsentrasi Kekuatan Islam Politik
Indonesia ini terpecah menjadi 2 antara yang berpartai dan yang tidak
berpartai. Pada masa reformasi banyak ormas islam baru yang muncul
bahkan mengagetkan dan membuat “gerah” dua ormas lama yakni
Muhammadiyah dan NU. Ormas Baru itu antara lain ; Hizbut Tahrir
Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin
Indonesia (MMI), Jamaah Tabligh, Laskar Jihad (telah bubar), dll.
Ormas baru ini sebenarnya dalah masa mengambang yang potensial secara
budaya politik lebih maju dari ormas lama yang telah diperebutkan
massanya baik oleh partai islam maupun partai sekuler. Tapi
berdasarkan lembaran pemilu 1999 Islam politik Indonesia masih
merupkan minoritas secara formal. Untuk bertahan hidup sebgai taktik
islam politik masuk dalam kelompok poros tengah .


Pemilu 2004 menorehkan prestasi yang cukup lumayan, disisi lain
terlihat partai islam menurun suaranya seperti PPP akibat pecah yang
pecahannya membentuk PBR(Partai Bintang Reformasi) dan PBB, namun
disisi lain ada PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang merupakan
evolusi dari PK berhasil memperoleh suara yang lebih besar dari
pemilu 1999. PKS adalah partai yang menarik karena mempunyai
pengkaderan hingga ke pelajar-pelajar yang tidak terfikirkan oleh
partai lain, maka tak salah bahwa partai ini mendapat julukan partai
kaum muda. Wajarlah pada pemilu 2004 memenangi perolehan suara di DKI
Jakarta dan Jawa Barat. Namun terlihat ganjil dari PKS yang mempunyai
slogan bersih dan peduli adalah partai ini menjadi musuh bersama baik
partai sekuler maupun partai islam. Hal ini terlihat pada pilkada DKI
Jakarta PKS dikeroyok, namun dalam kasus pilkada lain tidak.
Kegagalan PKS sama seperti partai islam lainnya adalah belum dapat
merangkul suara ormas-ormas baru yang golput. Dalam politik siapa
yang tertindas dan mampu menguasai emosi masa yang sipati dapat
menjadi mayoritas . Namun PKS menurut hemat saya dapat menjadi besar
akibat menjadi musuh bersama karena rakyat kelak dapat menilai siapa
yang benar siapa yang salah.

Kesimpulan

Islam politik dalam sejarahnya hancur diakibatkan adanya
infiltrasi dari kelompok sekuler dapat terlihat dalam kasus
infiltrasi SI. Kepentingan pemimpin haruslah dibawah kepentingan
islam politik apabila islam politik Indonesia mau tummbuh lagi secara
perlahan. Kerjasama strategis Islam politik haruslah dibangun atas
dasar visi strategis kedepannya tidak hanya taktis saja PRRI dapat
menjadi pelajaran bagi kekuatan islam politik. Islam politik harus
bijaksana dan tegas mewaspadai menjauhi gerakan faksi yang anarkis
dan kriminalis yang dapat memperburuk citra islam DI/TII dapat
dijadikan pelajaran. Islam politik harus terus berupaya menghidupkan
budaya politik umat islam Indonesia baik itu dalam aksi sosial,
ekonomi maupun pendidikan. Islam politik yang dalam era reformasi ini
diwakili partai islam secara formal haruslah merangkul ormas-ormas
islam baru disamping yang tak ber ormas dan ormas islam lama. Jadi
islam politik hendaknya dapat memberikan solusi terhadap permasalahan
bangsa Indonesia yang kompleks bukan malah menambah masalah baru.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kok panjang amat artikdlna.. – http://blog.aprillins.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: