Tajuk Rencana Kompas >< Republika Soal “Tragedi Monas”

Selasa, 3 Juni 2008 | 00:37 WIB

 KOMPAS:

 Kekerasan dan Efek Demonstratifnya

 Efek demonstratif atas kekerasan yang terjadi pada peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni tergolong luar biasa. Lebih-lebih karena meminta korban cedera.

Tindakan main hakim sendiri itu mendapat efek publikasi luas, terutama di era multimedia sekarang ini. Tidak hanya ditonton oleh masyarakat Indonesia sendiri, tetapi juga komunitas global. Oleh siaran media massa, terutama jaringan televisi, adegan kekerasan di kawasan Monumen Nasional tidak hanya dapat ditonton oleh generasi tua, tetapi juga oleh generasi muda, anak-anak, di seluruh penjuru Tanah Air.

Terlepas dari kaitan sebab-akibatnya, dampak kekerasan pada dirinya luar biasa. Bukan hanya korban langsung yang menderita, tetapi juga mencederai nilai kemanusiaan. Ironisnya lagi, kekerasan hari Minggu lalu di Monas justru berlangsung pada peringatan kelahiran Pancasila yang mengamanatkan nilai-nilai keluhuran.

Kekerasan itu tidak hanya mengusik rasa keamanan bersama sebagai warga bangsa, tetapi juga telah mencederai citra Indonesia sebagai bangsa yang mencintai perdamaian. Sekalipun kekerasan itu berlangsung di kawasan Monumen Nasional, pelataran itu telah menjadi ”panggung dunia” karena liputan media massa telah membawa peristiwa itu ke ruang-ruang keluarga di seluruh dunia.

Melalui layar televisi, kekerasan itu dapat disaksikan masyarakat mancanegara. Di tengah era globalisasi dan transparansi sekarang ini, praktis tidak ada kejadian yang bebas dari tembus pandang. Langsung atau tidak, dampak kekerasan itu ditanggung oleh seluruh masyarakat Indonesia karena dapat membuat kaum investor asing menjadi ragu menanamkan modal di Indonesia.

Para investor membutuhkan ketenangan dan stabilitas keamanan agar usahanya berjalan lancar. Dunia usaha memang sangat sensitif atas gangguan keamanan. Lebih menyakitkan lagi kalau kekerasan itu digunakan negara-negara tetangga dalam kompetisi industri pariwisata dengan mendiskreditkan Indonesia sebagai negara yang tidak aman dikunjungi pelancong.

Dengan terus-menerus menayangkan rekaman adegan kekerasan yang terjadi di Indonesia, para calon wisatawan bisa saja terpengaruh sampai mengurungkan niat datang ke Indonesia. Apa pun pertimbangannya, kekerasan itu kontraproduktif, yang dikhawatirkan juga akan berimbas pula terhadap program Tahun Kunjungan Indonesia 2008.

Padahal, belum lama ini Amerika Serikat mencabut larangan bepergian ke Indonesia, dan Uni Eropa membuka lagi penerbangan Garuda Indonesia ke Eropa. Tantangan yang dihadapi bangsa ini ada-ada saja.

 

 

(http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/03/ 00373313/ tajuk.rencana)

 

 

 

***

 

Selasa, 03 Juni 2008

REPUBLIKA: Semua di Tangan Presiden

Gerakan kaum liberal di Indonesia hanyalah ujung ekstrem dari ekstrem lainnya, kaum dogmatis. Adalah celaka jika pemerintah, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, membiarkan dirinya terhisap oleh tarikan keduanya. Kasus bentrok di Monas pada Ahad (1/6) kemarin adalah cermin kondisi demikian. Presiden telah terjebak sehingga bentrokan itu terjadi. Jika memang harus ada yang disalahkan pada ‘musibah’ ini, Presiden-lah sebagai salah satu yang bertanggung jawab. Namun, kita tentu bukan hendak mencari siapa yang salah, tapi bagaimana mengurai kasus ini agar bangsa ini selamat.

Kejadian kemarin harus segera diselesaikan secara hukum. Setiap pelaku kekerasan harus dipenjarakan, entah itu dilakukan Komando Laskar Islam ataupun oleh Front Pembela Islam. Apalagi, nada eskalasi sudah terlihat. Di Cirebon dan Jember, terjadi penyerangan terhadap FPI. Bahkan, sekjen organisasi kepemudaan siap bergerak menyerbu FPI. Sejumlah orang menyerukan pembubaran FPI. Terlihat gagah dan universal karena yang dihajar adalah ‘Islam’, yang sebetulnya kaum minoritas dan kaum terburu dalam dunia global kepemimpinan Barat. Kaum Barat selalu menyebut Islam tidak kompatibel dan bahkan mengotori dunia yang kini dihegemoni mereka.

Pemerintah Indonesia pun gemetar setelah diintervensi empat negara sehingga tak berani menyikapi Ahmadiyah. Seorang anggota Wantimpres bisa menghina seorang ulama di depan umum dengan kata-kata kasar: bunglon, tak tahu diri, dan semacamnya. Kita pun menyorakinya dengan takzim. Tak cuma itu, melalui kuasa uang bisa beriklan di mana-mana dengan menuduh yang lain sebagai ancaman terhadap Indonesia. Umat Islam dibenturkan dengan negara: suara usang dari rezim Soeharto. Paranoid dan jahat.

Paling gampang untuk bersuara dan bertindak ‘bubarkan, penjarakan, tangkap, hukum mati’ orang-orang berlabel Islam. Apalagi, cuma mengatakan ‘mencederai kemajemukan dan tak sesuai nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan’ . Bahkan, di Indonesia sekalipun. Partai-partai yang berkuasa, para jenderal di militer, media massa, dunia bisnis, ataupun aktivis LSM lebih banyak dikuasai oleh orang-orang yang jauh dari suara Islam. Mereka bisa saja beragama Islam. Tapi, mereka hidup dalam suasana yang lain atau tergiur oleh kucuran dana dan fasilitas beasiswa ataupun perjalanan ke berbagai negeri di forum internasional.

Namun, apa yang mereka lakukan hanyalah ujung ekstrem. Tentu saja, setiap ekstrem tak akan mampu menyentuh intinya. Ia hanya ada di permukaan. Karena, yang mayoritas sesungguhnya adalah yang diam. Jika kita membiarkan diri kita terus seperti itu, Indonesia pun akan sangat sulit maju dan sejahtera. Ketika kita menyelesaikan beragam soal, kita selalu bersikap elitis. Termasuk, soal BBM dan Ahmadiyah. Akibatnya, kita tergagap sendiri. Kita akan selalu menyalahkan mayoritas yang diam itu sebagai bodoh, pasif, malas, miskin, dan terbelakang. Maka, solusinya adalah kita memaksakan nilai-nilai kita, cara berpikir kita, dan dengan kecepatan yang biasa kita lakukan. Karena itu, kemerdekaan 1945, tumbangnya Sukarno, atau jatuhnya Soeharto tak menghasilkan apa-apa bagi mayoritas yang diam. Mereka tetap miskin, bodoh, dan terbelakang.

Saat ini, isu Ahmadiyah dibelokkan menjadi isu kebangsaan, kebhinnekaan, dan bahkan lebih sempit lagi menjadi isu FPI. Padahal, ini murni soal akidah Islam. Yang memutuskan pun MUI, bukan organisasi jalanan. Tak ada hubungannya dengan segala isu yang coba dibenturkan, apalagi dengan agama Kristen misalnya yang kini ikut-ikutan. Jika Presiden membiarkan soal ini berlarut-larut, konflik horizontal pun hanyalah soal waktu dan momentum. Tentu, kita tak menginginkannya. Kita ingin melihat, sekali-kali Presiden membuat keputusan berdasarkan aspirasi warganya.

 (http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=336118&kat_id=17)

 

Iklan

24 Tanggapan

  1. Dua tajuk dari dua ideologi yang berbeda..
    KOMPAS lebih realistik membaca kejadian, ia tidak terbawa utopi yang tidak dibutuhkan masyarakat, sementara REPUBLIKA, seperti halnya ideologi yang diusungnya, selalu utopis dan enggak membumi. Disamping itu REPUBLIKA lebih jelas keberpihakannya.
    Aneh tajuk REPUBLIKA ini, dibuka dan dan diakhiri dengan sentilan terhadap Presiden, memang sesuai judulnya. Larinya kok ke situ ya..
    Jadi enggak lucu aja…

  2. Bismillah ,Semoga Alloh SWT merahmati kita semua hari ini.Saudaraku NU Dan FPI berdamai dan bersatulah seperti telah tidak terjadi apa-apa diantara kalian semua.Sesungguhnya pertengkaran kalian menguntungkan AHMADIYAH,inilah keinginan dari Ahmadiyah.Dimana wajah kita didepan Tuhan kita ketika kita masih ada didunia Ahmadiyah ada disebelah kita.Ahmadiyah bergantilah menjadi agama lain,satya minta tolong jangan pake nama Islam dan atribut islam.Ahmadiyah saudaraku sebangsa dan setanah air tapi bukan seagama,jadi bikinlah agama sendiri saja.Assalam mualaikum Wr Wb

  3. Bismillaah! jangan ada kekerasan, karena kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Bubarkan saja FPI! dan juga AKK-BB, sudah tahu umat muslim menghendaki Ahmadiyah dibubarkan dia bikin masalah cari muka. Sudahlah jangan sok – sokan! FPI dan AKK-BB semua sama harus dibubarkan. Soal Fatwa serahkan ke MUI, soal hukum serahkan kepada pemerintah.

  4. Asmlkm, hati2 ada yang memancing di air keruh, ada yang sengaja mengadu domba. hati hatilah, segera bubarkan ahmadiyah yang jelas-jelas menodai kesucian aqidah, memang butuh pengorbanan, semoga Allah melindungi kita semua dan menghancurkan kesesatan sehancur-hancurnya, kalau toh bebas di dunia, maka yakinlah mereka tidak akan lepas dari pengadilan allah di Akhirat kelak.

  5. saya menonton tayangan tersebut, langsung saya matikan, gak tahan melihatnya. Prihatin ….Indonesia ini kan terkenal ramah tamah, cinta damai….tapi sekarang kok?maksudnya apa ya koran republika itu pembahasannya kok gitu….aneh

  6. FPI itu pionnya polisi
    AKBB itu bidaknya kaum elits
    SKB Ahmadiyah di molorkan, mang sengaja

    mereka diadu domba. kan FP temperamen, mudah untuk dihasut. AKBB kan tempatnya para pemikir intelektual. susah ngalahinnya klo pake pemikiran juga. diskusi, perang kata2 lewat media, kalahh ntar. So, pake aja FPI. Polisi yang ngawasin FPI, menyusup dan menghembuskan kebencian. cucok skenarionya…Pukull..!! Bunuhh !!! Allohu Akbar..!!..
    Setelah terjadi, masyarakat tentu minta keadilan. Polisi tinggal nyiduk pionnya aja. Tangkap, beress..!!!
    BBM dan harga2 naik jadi teralihkan untuk sementara waktu. cukup untuk meredam heroisme mahasiswa. dan Pemerintah tahu, mahasiswa itu kalahnya bukan hanya dengan dosen, tapi juga dengan masyarakat…
    So, Elit jadi punya waktu untuk berbenah diri sebelum pemilu 2009 datang…

    Kita liat..siapa yang berperan dibelakang layar…..taktik ini pernah dipake militer pada rezim soeharto…

  7. salam kenal ..

    Bentrok ?? kok istilahnya bentrok sihh. Dipukuli sama berantem itu laen mas.

  8. Republika nggak jauh beda dari ERAMUSLIM, kebiasanya sulit ditutupi … cenderung mengalihkan perhatian saat pihaknya terbukti berkelakuan buruk …

  9. Indonesia…Indonesia…Indonesia…
    Wuih, penuh kepentingan.

  10. anda tahu kompas milik siapa, dan republika milik siapa. ini realitas lho dan menentukan sudat pandang dan kecondongan ( sikap)

  11. ini membuktikan bahwa media punya kepentingan. tidak bebas nilai.

    jadi lihatlah juga republika, jangan kompas saja. lihatlah al jazeera jangan cnn saja. (bisa dibalik juga)

  12. […] ini, saya membaca artikel menarik di salah satu blog (yang sempat nangkring di top blog wordpress.com). Artikel tersebut sebenarnya bukan artikel. Cuma […]

  13. hehe, inspired.

  14. Duh..
    Capek deh…

  15. salam
    Pemberitaan media memang tergantung siapa di belakangnya.
    saya cenderung pada pemberitaan republika, karena kenyataan toh yang berbicara.

  16. @ Tulus Subardjono
    Saya setuju dengan anda, tampaknya logika tajuk Republika hanya terpatri
    dalam bentuk kebencian bukan pencerahan. Kasihan, masih ada model penulis tajuk seperti ini.

  17. Tampak Kompas lebih realistis.Tidak dengan maksud membela Kompas,hendaknya jurnalistik berlaku seperti Kompas,realistis dan tidak membela golongan tertentu.

  18. Kualitas jurnalisme kita rupanya makin merosot. Coba baca lagi gagasan pokoknya:

    “Gerakan kaum liberal di Indonesia hanyalah ujung ekstrem dari ekstrem lainnya, kaum dogmatis. Saat ini, isu Ahmadiyah dibelokkan menjadi isu kebangsaan, kebhinnekaan, dan bahkan lebih sempit lagi menjadi isu FPI. Padahal, ini murni soal akidah Islam. Yang memutuskan pun MUI, bukan organisasi jalanan.”

    Pertanyaan saya:

    – Apakah membela Ahmadiyah dengan alasan adalah dogmatis?
    – Apakah Republika belajar Islam dari MUI?
    – Apakah melawan fatwa MUI itu melanggar hukum?
    – Apakah Islam Saudi cocok untuk Indonesia?

    The most extremist pseudo-Sunni movement today is Wahhabism (also known as Salafism). While many may think that Wahhabi terror is a recent phenomenon that has only targeted non-Muslims, it will surprise many to know that the orthodox Sunni Muslims were the first to be slaughtered in waves of Wahhabi massacres in Arabia hundreds of years ago. One only has to read the historical evolution of Saudi Arabia to know the gruesome details of the tragedy – a tragedy in which thousands of Sunni and Shi’ite Muslims perished at the hands of Wahhabi militants.

    http://intelefone123.wordpress.com/about/

  19. mari cooling down sejenak

    http://hmcahyo.wordpress.com/2008/06/06/jumat-ini-aku-menangis-karena-banser-vs-fpi/

  20. Assalamualaikum.wr.wb
    Saya mungkin yang minoritas benar disini. Di satu sisi, dengan pemahaman aqidah saya, saya melihat, Islam memiliki seperangkat sistem dan keyakinan baku dan masuk rukun Iman di mana kenabian Rasullullah Muhammad SAW adalah final sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Di sudut ini, pemikiran saya, sejalan dengan fatwa MUI–sebagai institusi kompeten resmi dalam konsepsi Islam Indonesia. Namun di sisi lain, Rasullullah Muhammad SAW tidak mengizinkan juga tradisi kekerasan untuk perbedaan paham dan pendapat. Bahkan, pernah dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad SAW diludahi dan ia tidak melakukan perlawanan. Malah, ketika yang meludahinya sakit, ia menengok pertama. Tak heran, keluhuran budinya membuka simpatik, sehingga akhirnya tukang meludahi Nabi tadi masuk Islam.
    Nah, bisakah kesemuanya dijadikan semacam ibroh atau pelajaran. Pertama, silahkan bagi pihak yang tidak setuju ajaran Ahmadiyah untuk menuntut SKB pada pemerintah yang melarang lembaga itu, namun lakukan dengan cara damai, tanpa kekerasan dan intelektual. Kedua, kita juga harus melindungi dan menjamin hak-hak dasar misalnya hak hidup dan hak bekerja pada siapapun, sehingga jika organisasi Ahmadiyah dilarang, hak-hak dasar tadi tetap dijamin. Ketiga, sepertinya, kita juga harus peka pada kebutuhan umat untuk (1) mengharamkan dan menyatakan sesat bagi orang yang melakukan korupsi dan menciptakan kemiskinan dan (2) membuat gerakan anti uang suap, korupsi dan uang haram lain bagi tempat ibadah dan pesantren agar terbebas dari azab Allah yang sungguh amat pedih.
    Semoga Allah SWT memberi terang petunjuk yang benar. Hanya kebenaran yang hakikilah yang bersumberkan dari Allah Taala.
    Wassalam.
    R Muhammad Mihradi
    (Anti Ajaran Ahmadiyah sekaligus Anti Kekerasan)

  21. 🙂
    padahal sudah anda jelaskan bedanya 2 media. kok masih saja ada orang membela kezhaliman ya. bingung aku sama mereka itu. 😦

  22. Salam

    saya terlahir dari urban minoritas di negeri ini, saya juga ga tau kenapa lahir di Indonesia tercinta sudah memeluk Ahmadiyah yang banyak kata orang SESAT..
    kenapa semua menyesatkan saya n teman”? sementara selama ini saya melihat n mendengar pemahaman yang belum tentu semua bisa mengerti..

    kalo darah saya halal sebagai pengikut Ahmadiyah; wajibkah bagi kami untuk membela diri disaat ada yang mengancam nyawa? Dosakah kami melawan semua bentuk kekerasan sampai-sampai saudara kami ada yang menjadi korban meninggal!!! adakah yang tau saudara kami yang meninggal masuk surga atau neraka… Tolong jawab bagi yang menganggap kami SESAT atau yang membela kami dengan bukti tentunya..

    yang saya tahu, negara ini berlandaskan hukum positif bukan hukum rimba, klo’pn dibubarkan kami tidak takut, karena banyak negara yang akan menerima suaka kami.. tapi apa inikah sebuah refleksi atas rasa Nasionalisme n Kebangsaan kita, entah..

    mudah’n dari setetes darah saudara kami yang meninggal membuat semua sadar bahwa kekerasan tidak ada gunanya n kenapa juga Allah SWT membuat bumi ini menjadi banyak benua, samudra n knp juga ada siang n malam? apakah selamanya di bumi ini harus siang terus sehingga semuanya sama…

    Trims

  23. IndonesiaKu………………………..Kompas lebih good, karena kompaskan harganya ada yang murh ckup seribu dapat berita

  24. kekurang tegasan presiden dalam mengambil keputusan dari sertiap penanganan kasus membuat hal 2 tersebut selalu terjadi berulang ulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: