PKS Sesalkan Sikap FPI


Laporan wartawan Persda Network Rachmat Hidayat

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 06/02/12575048/ pks.sesalkan. sikap.fpi

JAKARTA, SENIN – Sikap tegas dilontarkan oleh Wakil Ketua DPR Sutardjo
Suryoguritno terkait aksi kekerasan yang dilakukan oleh massa yang
mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI), Minggu (1/6) kemarin.
Politisi PDI Perjuangan ini setuju dengan pendapat KH Abdurrahman
Wahid
atau Gus Dur yang meminta pembubaran FPI.

“Saya mendukung pendapat Gus Dur, bubarkan FPI. Polisi harus tegas
menindak para pelaku,” kata Mbah Tardjo kepada para wartawan.

Sementara itu Partai Keadlian Sejahtera (PKS) juga ikut menyesalkan
tindak kekerasan yg dilakukan FPI kemarin. Kekerasan model ini,
menurut sikap resmi Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq harus segera diakhiri.

“Berbagai persoalan di negeri ini tidak bisa diselesaikan dengan cara
kekerasan, apapun alasannya. Setiap warga atau kelompok punya hak
menyampaikan aspirasinya atas berbagai persoalan. Namun, harus dengan
cara-cara damai, dialogis dan elegan,” kata Mahfudz

“Konflik fisik hanya akan mencoreng nama baik kelompok dan bangsa. Dan
akan menjadi bahan bakar yang bisa menyulut destabilitas politik dan
sosial di tengah-tengah kondisi masyarakat yang sedang resah akibat
tekanan ekonomi yang berat,” katanya lagi.

Mahfudz berharap, pemerintah sebagai pemegang otoritas kekuasaan,
hukum dan keamanan harus tegas, sekaligus mampu mengantisipasi
potensi-potensi konflik.

Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum juga ikut
menyesalkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh massa FPI. Anas
menyatakan, kekerasan adalah bentuk dari ketidak dewasaan dalam
menyikapi perbedaan. “Kekerasan karena perbedaan adalah ancaman bagi
masa depan Indonesia yang majemuk,” tegas Anas Urbaningrum.

Sebagai partai pendukung pemerintah, Anas kemudian meminta kepada
Polri untuk mengusut secara tuntas kasus ini dan menindak serta
memproses pelaku kekerasan secara hukum. “Atas nama apapun kekerasan
tidak boleh ditoleransi dan dibiarkan. Kekerasan harus dijauhkan dari
kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelas Anas Urbaningrum.

Pernyataan Sikap atas Penyerangan FPI terhadap Aksi Damai AKKBB


Hentikan Kekerasan dan Hargai Keberagaman�

Pada Minggu, 1 Juni 2008, Lapangan Monas, terjadi penyerangan yang
dilakukan oleh sekelompok massa dari Laskar Pembela Islam, kelompok
paramiliter dalam Front Pembela Islam (FPI). Penyerangan ini dilakukan kepada
sekitar 500-an orang yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk
Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang mempersiapkan
peringatan hari kelahiran Pancasila (Koran Tempo, 02/06/08).  
Massa LPI melakukan penyerangan terhadap rombongan secara brutal. Aksi
penyerangan dilakukan tidak hanya kepada laki-laki, namun juga kepada
ibu-ibu dan anak-anak. Akibat aksi ini, sedikitnya sebanyak 12 orang
menderita luka. Menurut saksi mata, pada saat penyerangan terjadi, tidak
tampak penjagaan dari pihak kepolisian sehingga ratusan massa beratribut
FPI dapat menyerbu dengan mudah massa AKKBB yang sebagian adalah
perempuan.
Muchamad Machsuni, panglima Laskar Pembela Islam menyatakan tindakan
penyerangan ini dilakukan sebagai bentuk penegasan sikap kepada Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan yang mendukung Ahmadiyah. Ahmadiyah, menurut
Machsuni, telah mencoreng umat Islam, oleh karena itu, hanya ada dua
,� tobat atau perang�. (Koran Tempo, 02/06/08)
Aksi kekerasan yang ditujukan kepada sebuah kelompok elemen bangsa yang
sedang berkumpul dan menghimbau negara untuk menghormati dan
melindungi hak warga negara untuk memiliki keyakinan dan menjalankan agamanya,
adalah sebuah ironi di negara yang penuh dengan keberagaman. Aksi
kekerasan, tepat pada saat bangsa Indonesia memperingati lahirnya konstitusi
negara ini, telah mencederai proses kehidupan sebuah bangsa yang
terdiri dari beragam budaya, suku, agama dan kepercayaan. 
Oleh karena itu, kami, INSTITUT PEREMPUAN, dengan ini menyatakan:
1. Mengutuk kekerasan dan penyerangan brutal dan tidak manusiawi,
yang dilakukan terhadap AKKBB, termasuk perempuan dan anak, yang sedang
memperingati hari Kelahiran Pancasila.
2. Prihatin atas kelambatan aparat kepolisian dalam merespon aksi
penyerangan yang terjadi.
3.  Mendesak aparat penegak hukum untuk menangkap dan mengadili
pelaku penyerangan.
4.  Menyerukan kepada seluruh masyarakat dan elemen bangsa untuk
menolak kekerasan dan mengutamakan dialog dalam menyikapi perbedaan.

Demi keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan,

INSTITUT PEREMPUAN

R. Valentina Sagala, SE., SH., MH
Board of Executive
Sumber: Forum Pembaca Kompas

LIPI : Angka Kemiskinan 2008 Menjadi 41,7 juta


JAKARTA – Tim Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (Tim P2E-LIPI) memperkirakan warga miskin tahun ini akan
bertambah menjadi 41,7 juta orang (21,92 persen). Lonjakan ini akibat
kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM 28,7 persen pekan lalu.

“Dengan kata lain tambahan penduduk miskin tahun ini naik 4,5 juta
dibandingkan posisi 2007,” kata Peneliti Senior P2E LIPI Wijaya Adi
pada keterangan pers dampak sosial kenaikan harga BBM di Kantor pusat
LIPI, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Rabu (28/5/2008).

Kondisi penduduk miskin tahun 2007 mencapai 37,2 juta atau sekitar
16,58 persen, dengan garis kemiskinan Rp166.697 per orang per bulan.
Dengan adanya kenaikan harga BBM, hingga bulan Desember 2008
diperkirakan kebutuhan hidup layak bagi tiap individu adalah sebesar
Rp195 ribu per orang per bulan.

“Hal ini tentunya akan mempengaruhi kalkulasi jumlah penduduk miskin
yang juga dipastikan akan meningkat,” kata Wijaya.

Sehingga cara termudah untuk mengurangi data statistik penduduk miskin
adalah dengan menetapkan garis kemiskinan pada titik yang paling rendah.

Hasilnya, menunjukkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2008 akan
menjadi 41,7 juta jiwa, atau sekitar 21,9 persen dari penduduk
Indonesia dengan garis kemiskinan Rp195 ribu per bulan. “Satu hal yang
perlu dicatat, manakala BLT berhenti maka jumlah penduduk miskin akan
melonjak,” jelasnya. (Muhammad Ma’ruf/Sindo/ rhs)

sumber:
http://economy. okezone.com/ index.php/ ReadStory/ 2008/05 /28/19/113335/ lipi-angka- kemiskinan- 2008-menjadi- 41-7-juta

Siaran Pers dan Kronologi Jurnal Perempuan


1 Juni 2008

Oknum Pendemo FPI Bertanggungjawab atas Penganiayaan terhadap Manajer
Program Jurnal Perempuan

Pada hari Minggu 1 Juni 2008, pukul 13.30 Jurnal Perempuan berpartisipasi
dalam Aksi Solidaritas yang digelar oleh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Kami berkeyakinan bahwa setiap
warganegara wajib mendapatkan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam
kondisi apapun juga, juga penghormatan atau toleransi dari kelompok beragama
lainnya. Salah satu bentuk komunitas agama yang juga mengalami kekerasan dan
berpartisipasi dalam aksi adalah para Ibu dan anak dari kelompok Ahmadiyah.

Sayangnya, persiapan dari massa AKKBB, di depan tugu Monas, dihentikan dan
diserang oleh barisan oknum pendemo Forum Pembela Islam atau FPI dan ormas
yang bergabung dalam demo tersebut, yang bersenjata bambu dan besi panjang
hitam. Akibat dari serangan, kekerasan, pemukulan dan penganiayaan, 20 orang
lebih dari massa AKKBB terluka cukup parah, ringan dan bahkan Manajer
Program Jurnal Perempuan, Mohammad Guntur Romli harus dioperasi atas
luka-luka pemukulan yang dialaminya.

Dengan ini, kami Jurnal Perempuan merasa perlu menuntut pada *pihak
keamanan, kepolisian dan berwenang* lainnya untuk menuntaskan masalah pidana
ini segera, menangkap dan menghakimi para pelakunya sampai pengadilan.
Jurnal Perempuan juga merasa perlu adanya investigasi pelanggaran hak
sipil-politik terhadap tim AKKBB yang sedang beraksi damai di Monas, tetapi
pada kenyataannya dibubarkan paksa dan bahkan diserang penuh kekerasan oleh
pihak FPI dan kawan-kawannya. Jurnal Perempuan juga mengajak kita semua,
masyarakat Indonesia untuk jangan berdiam diri melihat kekerasan dan bentuk
aksi penganiayaan seperti ini yang melemahkan proses demokrasi kita.

Jurnal Perempuan juga menuntut kepada FPI:

1. Menghentikan semua kekerasan dalam segala bentuk kepada organisasi
apapun kepada semua kelompok agama apapun di Indonesia, termasuk
Ahmadiyah.
2. Mempertanggungjawab kan semua kekerasan dan penganiayaan yang telah
menimpa rekan kami, Manajer Program Jurnal Perempuan, Mohammad Guntur
Romli
yang sudah menderita luka cukup berat dan harus dioperasi karena serangan
ini. Tuntutan ini mencakup baik perbaikan secara fisik, moril maupun
sosial.

3. Menuntut agar pimpinan tertinggi FPI dan organisasi terkait dalam demo
tersebut, meminta maaf terhadap publik dan Jurnal Perempuan atas insiden
penganiayaan ini.
4. Memperbaiki hubungan baik antara FPI atau organisasi terkait dengan
pihak AKKBB, dengan mengakui hak dasar manusia para anggota AKKBB,
termasuk
hak menyatakan pendapat, demo damai dan berbicara di ruang publik.
5. Menuntut FPI juga meminta maaf dan bertanggung jawab pada pihak korban
lain-lainnya yang juga menjadi korban kekerasan dan penganiayaan yang
terjadi, terutama pada korban Ibu dan anak yang juga terkena dampak
kekerasan, mengalami ketakutan, diintimidasi dan bahkan trauma karena
kasus
penyerangan ini.

Apabila ini semua tidak dipenuhi dalam waktu dekat, kami menuntut agar FPI
dibubarkan, karena sudah tidak berperikemanusiaan dan menyalahi
ajaran-ajaran agama yang kaidahnya mengajarkan kedamaian, toleransi dan hak
azasi manusia tinggi.

Hormat kami,

Tim Jurnal Perempuan

Jl. Tebet Barat VIII No 27

Jakarta Selatan

Telp: 021- 8370 2005

HP 0815-19002185

E-mail:

mariana@jurnalperem puan.com, olin@jurnalperempua n.com

KRONOLOGIS PENYERANGAN DAN PENGANIAYAAN FPI TERHADAP ANGGOTA JURNAL


KRONOLOGIS PENYERANGAN DAN PENGANIAYAAN FPI TERHADAP ANGGOTA JURNAL
PEREMPUAN YANG IKUT DALAM ALIANSI KEBANGSAAN UNTUK KEBEBASAN BERAGAMA

13.00 Tim Jurnal Perempuan standby dan tiba di gerbang Gambir dekat pintu
masuk Monas

13.20 Bergabung bersama tim AKKKB, berjalan perlahan menuju ke lokasi
tengah Monas, tepat di depan Monas, ternyata sebagian anggota tim AKKBB
sedang check-sound dan mengatur barisan untuk memulai acara

13.30 Ketika Tim JP sudah bergabung, dari arah lain, gerombolan
orang-orang berjubah putih, memakai slayer/syal warna putih hijau berlambang
pedang, memegang bambu runcing dan besi hitam panjang, mendatangi ke arah
tim AKKBB yang sedang bersiap-siap , mengatur barisan dan hendak berdoa dan
tidak bersenjata apapun juga. Di depan, terlihat beberapa ibu dari Ahmadiyah
dan anak remaja bersama mereka.

13.40 Dalam sekejab, mereka menyerang barisan kami, berteriak
“Allahuakbar” , “tangkap sekutu Gus Dur” dan lainnya, maju merangsek ke
barisan yang sudah dibatasi oleh tali, memukulkan bambu dan besi mereka
membabi buta ke arah kami, termasuk kepada tim JP yang ada di dalam barisan.
Seluruh massa AKKKB berlarian menyelamatkan diri, kocar kacir panik dan
berusaha menyelamatkan diri. Tim Jurnal Perempuan terdiri dari Mariana
Amiruddin, Nur Azizah, Olin Monteiro dan Mohammad Guntur Romli terpencar,
tetapi setelah itu bertemu kembali. Kami berusaha saling menjaga dan bahkan
sempat berkomunikasi dengan Ezky, Jajang C. Noer dan Dyah Ayu Pasha yang
sangat menyayangkan penyerangan itu. Guntur tidak terlihat oleh karena itu,
tim JP langsung mencari dan berkomunikasi melihat posisinya. Sementara massa
membakar poster, merusak mobil sound-system, meneriaki kemarahan membabi
buta kepada orang yang lewat, bahkan berteriak mengancam pada perempuan. Tim
JP sempat melihat mereka juga memukuli seorang bapak yang lewat tapi bukan
tim Aksi kita. Nur Azizah berhasil merekam foto-foto sebagian dari kejadian,
walaupun sempat diancam oleh anggota FPI dan sempat ditarik-tarik tas ransel
yang sedang dipegangnya.

13.50 Guntur yang terpencar, ternyata berusaha menyelamatkan seorang
bapak yang memegang anak kecil dan berusaha kabur dari keroyokan massa.
Malangnya, Guntur juga ternyata ikut dikeroyok dan dipukuli menggunakan
bambu. Guntur sempat dibawa ambulans dengan 4 korban lainnya yang terluka
cukup parah, tetapi turun untuk memantau situasi dan melihat teman lainnya.
Darah mengucur dari dahi yang robek, hidung mengeluarkan darah terus dan
mata bengkak kehitaman.

14.00 Tim JP berhasil menemukan Guntur dekat kios wartel dan mengurusi
pendarahan yang masih terjadi. Di Kios, Guntur juga sempat dibantu para
Bapak penjual/pedagang kaki lima untuk menghentikan pendarahan. Kami segera
mencari transportasi untuk mengurus luka-luka Guntur.

14.20 Dengan taksi Tim JP mengantar Guntur menuju RSPAD dekat Atrium Senen.
Kami segera masuk ke UGD untuk mendapatkan perawatan.

17.00 Setelah administrasi, rontgen dan urusan dokter yang cukup lama,
Guntur masuk kamar operasi untuk melakukan operasi reposisi tulang hidung
yang geser, pelipis yang retak dan robek 3 cm disekitar atas mata dan dahi
kanan. Kondisinya stabil dan cukup membaik.

Kabar dari dokter perlu perawatan dua hari di Rumah Sakit.
Selasa diharapkan boleh

pulang.

19.0 WIB Kami juga mendengar kabar dua Bapak dari Ahmadiyah juga menjadi
korban penganiayaan dan dirawat di RSPAD yang sama dengan Guntur.

Kronologis oleh: Nur Azizah dan Olin Monteiro (tim Jurnal Perempuan)

Kebhinnekaan Dicederai


Kompas – Kekerasan yang dilakukan massa beratribut Front
Pembela Islam dan beberapa organisasi masyarakat lain terhadap anggota
Aliansi Kebangssan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada
peringatan hari kelahiran Pancasila, Minggu (1/6), di kawasan Monumen
Nasional, Jakarta, mencederai kehidupan kebangsaan di Indonesia yang
menjunjung tinggi kebhinnekaan.

Oleh karena itu, aksi kekerasan tersebut harus diusut oleh kepolisian
dan pelakunya dikenai sanksi hukum.

Pendapat yang disuarakan oleh wartawan senior Goenawan Mohamad yang
turut serta dalam Aliansi Kebangssan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB), juga disuarakan tokoh politik, tokoh agama,
tokoh masyarakat, dan pihak-pihak yang terkena aksi kekerasan massa
yang beratribut Front Pembela Islam (FPI). Antara lain, Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Dewan Syuro Partai
Kebangkitan Bangsa, yang juga mantan Presiden, Abdurrahman Wahid,
Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI Perjuangan Taufiq Kiemas, Direktur
Eksekutif The Wahid Institute Achmad Suaedi, Ketua Fraksi Kebangkitan
Bangsa DPR A Effendy Choirie, dan Ketua DPP Partai Demokrat Anas
Urbaningrum.

Tindakan kekerasan yang dilakukan massa FPI itu dianggap ironis karena
dilakukan terhadap anggota AKKBB pada peringatan hari kelahiran
Pancasila yang seharusnya menjadi landasan pemersatu seluruh komponen
bangsa.

Aksi kekerasan yang dilakukan massa FPI itu mengakibatkan peringatan
hari kelahiran Pancasila yang sedianya dilakukan AKKBB di kawasan
Monumen Nasional (Monas) itu akhirnya bubar. Pada saat yang sama, dua
kelompok massa, yaitu Front Perjuangan Rakyat dan Hizbut Tahrir
Indonesia berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, menuntut agar
keputusan kenaikan harga bahan bakar minyak dibatalkan.

Menanggapi aksi kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap AKKBB,
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, aksi kekerasan
itu merupakan peristiwa yang memprihatinkan dan bertentangan dengan
nilai Islam. Perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, tidak harus
diselesaikan dengan main hakim sendiri. Sudah saat bangsa ini
menghilangkan setiap aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam.

”Saya mengharapkan segenap pihak untuk menahan diri dan tidak terjebak
dalam kekerasan dan anarkisme,” ujar Din.

Sementara Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa, yang juga
mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, mengatakan, Islam menentang
kekerasan. ”Ini bukan negara rimba, mau tidak mau harus ditangkap
orang-orang itu.” Ia dalam kesempatan itu juga menyerukan agar Front
Pembela Islam dibubarkan.

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) yang tergabung
dalam AKKBB Masruchah sangat menyesalkan kekerasan yang dilakukan FPI
terhadap para peserta apel akbar AKKBB. ”Kami diserang massa FPI yang
membawa bambu dan botol, padahal sebagian besar dari kami terdiri dari
perempuan dan anak-anak,” katanya.

Masruchah mengimbau, seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan
kekerasan dan mengedepankan diskusi dan perdebatan pemikiran yang
sehat dalam menyelesaikan perselisihan.

Adapun Munarman, yang mengaku sebagai Komandan Laskar Islam
mengatakan, pihaknya membubarkan aksi AKKBB dengan kekerasan karena
AKKBB dianggap mendukung Ahmadiyah. Padahal, menurut Munarman,
Ahamdiyah adalah organisasi kriminal.

Munarman juga menegaskan, ”Mengapa mereka mengadakan aksi mendukung
organisasi kriminal. Mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap
perang, jangan menantang.”

Setidaknya 12 peserta AKKBB terluka akibat kekerasan yang dilakukan
FPI. Di antara yang terluka terdapat Direktur Eksekutif International
Centre for Islam and Pluralism (ICIP) Syafii Anwar, Direktur Eksekutif
The Wahid Institute Achmad Suaedi, dan pemimpin Pondok Pesantren
Al-Mizan KH Maman Imanul Haq Faqih dari Majalengka.

Polisi akan tindak

Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng menegaskan, Indonesia
adalah negara hukum dan menjamin setiap warga Negara untuk menjalankan
hak asasinya. Sebab itu, jika ada pelanggaran hukum seperti kekerasan,
negara akan melindungi korban dan menindak pelaku kekerasan secara
hukum. Menurut dia, tindakan hukum terhadap pelaku kekerasan akan
dilakukan kepada siapa pun, tidak akan pandang bulu.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menegaskan, Polri
akan menindak tegas siapa pun yang melakukan kekerasan. ”Saya sudah
bicara dengan Kepala Polres Metro Jakarta Pusat. Polri sedang
mengumpulkan bukti-bukti merupakan rekaman video dari peristiwa
kekerasan itu,” katanya.

Kepala Polres Jakarta Pusat Komisaris Besar Heru Winarko mengemukakan,
terpecahnya massa AKKBB, atau banyaknya anggota AKKBB yang keluar dari
rute yang seharusnya dilalui, menjadikan pengawalan polisi terbagi,
sehingga aksi kekerasan yang terjadi pada mereka tidak dapat dicegah.

Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain mengatakan,
”Jika pemerintah tidak segera membuktikan dapat bertindak tegas dengan
memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain
seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI.”

Ia menambahkan, pihaknya sudah mulai lelah mendengar pemerintah yang
berulangkali berjanji akan bertindak keras terhadap kelompok seperti
FPI, tetapi nyaris tanpa bukti.

Aksi kekerasan tersebut membuat para ulama, kiai dan sejumlah
organisasi mahasiswa mengadakan pertemuan mendadak di Pondok Pesantren
Khatulistiwa, Kempek, Kabupaten Cirebon, Minggu
sore.(NOW/INU/ JOS/USH/MAM/ NMP/NIT/THT/ */KSP/ECA/ DMU)

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/02/ 01293516/ kebhinnekaan. dicederai

Gerakan Pemuda Ansor ancam akan membubarkan FPI


Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain mengatakan,
“Jika pemerintah tidak segera membuktikan dapat bertindak tegas dengan
memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain
seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI.”

Ia menambahkan, pihaknya sudah mulai lelah mendengar pemerintah yang
berulangkali berjanji akan bertindak keras terhadap kelompok seperti
FPI, tetapi nyaris tanpa bukti.

Aksi kekerasan tersebut membuat para ulama, kiai dan sejumlah
organisasi mahasiswa mengadakan pertemuan mendadak di Pondok Pesantren
Khatulistiwa, Kempek, Kabupaten Cirebon, Minggu sore.