Nota Buat Adian Husaini Oleh Ruzbihan Hamazani (SOAL KERUKUNAN UMAT BERAGAMA)


Posted by: “Ruzbihan Hamazani”

Sat Dec 29, 2007 8:08 pm (PST)

Nota Buat Adian Husaini Oleh Ruzbihan Hamazani

Adian Husaini adalah salah satu penulis yang sangat digemari banyak kalangan Islam. Ia menulis rutin setiap minggu di Majalah Hidayatullah. Kolom-kolom mingguannya dibahas di Radio Dakta. Sebagai bekas wartawan, ia memang memiliki ketrampilan menulis yang cukup baik, enak dibaca, dan renyah. Kelemahan Adian hanya satu: sering memeragakan logika yang janggal. Ala kulli hal, salut untuk Adian Husaini.

Baru-baru ini, ia menulis sebuah kolom di situs Hidayatullah, “Mitos-Mitos tentang Perayaan Natal Bersama”. Tulisan ini beredar di banyak milis. Dalam tulisannya itu, ia mengkritik Prof. Din Syamsuddin yang menghadiri Perayaan Natal Bersama. Tulisan pendek ini ingin sekedar memberikan catatan pada kolomnya itu.

Tokoh kerukunan?

Saya ingin mulai dengan hal yang sederhana. Adian mengenalkan dirinya di ujung tulisan sebagai Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat. Saya berteriak dalam hati: What? Bagaimana orang seperti Adian menjadi seorang pejabat penting di MUI pusat untuk mengurus soal kerukunan umat beragama? Apakah saya tak salah? Apakah kata “kerukunan” mempunyai arti lain di sini? Kata “kerukunan” berasal dari akar kata “rukun” yang artinya kira-kira laras, harmonis, serasi, damai, dsb. Kata rukun berlawanan dengan sejumlah kata lain: tengkar, cekcok, curiga, dst.

Setahu saya, tulisan-tulisan Adian Husaini selama ini penuh dengan rasa curiga pada agama lain, terutama Kristen, nyinyir pada kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan dialog antaragama dan pluralisme, dst. Dia dulu juga pernah menjadi salah satu pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), lembaga Islam yang kita kenal membenci orang Kristen, dan selalu dengan mudah menuduh pihak “lawan debat” dengan istilah antek Yahudi (seperti terjadi pada Cak Nur). Bagaimana orang dengan rekam jejak seperti ini diserahi tugas untuk mengurus kerukunan antar umat beragama? Apakah ini tidak sama dengan meminta seorang koruptor menjadi anggota KPK? Apakah mungkin sapu kotor membersihkan lantai? Bukankah faqid al-shai’ la yu’thihi, kata pepatah Arab (orang yang tak punya sesuatu, tak akan bisa memberikan sesuatu itu)?

Nada tulisan Adian soal mitos-mitos perayaan Natal bersama itu sendiri, seperti anda bisa baca, kuat sekali diwarnai dengan nada eksklusivisme, curiga pada kelompok lain, dan sama sekali antidialog.

Jika MUI memang benar-benar memiliki komitmen untuk membangun kerukunan antaragama di Indonesia, tampaknya lembaga itu perlu berpikir ulang untuk mempertahankan Adian Husaini dalam komisi kerukunan tersebut. Alih-alih memperjuangkan kerukunan, orang seperti Adian ini hanya akan mempertahankan kecurigaan dan kebencian. Kecuali jika MUI memang niatnya sejak awal adalah mendirikan Komisi Kecurigaan Umat Beragama. Jika benar demikian, tentu saya seratus persen mendukung Adian Husaini bertahan selama-lamanya di sana.

Mitos Adian atau mitos sungguhan?

1.
Adian mengemukakan sejumlah mitos di sekitar perayaan natal bersama (PNB). Sekarang marilah kita memeriksa satu per satu mitos-mitos yang dikemukakan oleh Adian.

Pertama, dia mengatakan bahwa ada mitos tentang keharusan mengikuti PNB. “Mitos ini seperti sudah begitu berurat berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu,” ujarnya. Saya sungguh tak tahu, dari manakah Adian memetik mitos ini: apakah dari pohon mangga di belakang rumahnya, atau dari kebun milik temannya? Tak ada seorang pun mewajibkan ikut perayaan Natal bersama. Orang boleh ikut, boleh tidak. Tak ada undang-udang yang mengharuskan, juga tak ada kewajiban sosial untuk melakukannya. Teman-teman saya yang beragama Kristen sama sekali mengerti jika saya tak ikut perayaan Natal, karena khawatir dianggap memaksakan iman. Tetangga saya yang Kristen yang hampir setiap tahun mengucapkan Selamat Idul Fitri tak pernah meminta “balas jasa” kepada saya untuk mengucapkan Selamat Natal setiap bulan Desember tiba.

Jadi, dari mana Adian dengan begitu cemerlangnya menemukan mitos ini? Jika mitos ini benar-benar ada, tentu Adian layak mendapat pernghargaan yang setinggi-tingginya atas penemuan yang cerdas ini. Mungkin ia layak dimasukkan di musium MURI. Yang sungguh menakjubkan, Adian mengatakan bahwa mitos ini telah berurat berakar dalam masyarakat. Saya tak tahu, masyarakat mana yang sedang dibicarakan Adian.

Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat?

Istilah Perayaan Natal Bersama sebetulnya mudah ditelusuri asal-usulnya. Masyarakat kita mengenal adat-bertetangga yang bentuknya macam-macam. Kalau anda hidup di desa, adalah hal yang lumrah jika tetangga anda sedang punya perhelatan, anda diundang untuk datang dalam acara itu. Adat seperti ini berlaku tanpa mengenal perbedaan agama. Kalau tetangga saya yang Kristen sedang “mantu” dia akan mengundang saya. Saat saya mengadakan pertemuan RT di rumah yang kadang disertai dengan membaca ratib, barzanji atau yasinan, saya juga akan mengudang tetangga saya yang Kristen itu.

Adat ini yang kemudian diteruskan pada tingkat yang lebih besar lagi. Saat Idul Fitri, umat Islam mengadakan acara halal bihalal di kantor atau perusahaan tempat mereka kerja. Tentu tak enak kalau acara ini hanya dihadiri karyawan yang Muslim saja. Lalu, diundanglah karyawan lain yang beragama Kristen. Bagus. Rukun. Begitu juga sebaliknya, saat Natal tiba, karyawan yang Kristen mengadakan natalan. Yang Muslim diundang pula. Ini berlaku pula untuk agama-agama yang lain.

Kebiasaan ini dilanjutkan pada level kenegaraan. Karena negara kita bukan hanya milik orang Islam saja, tetapi milik semuanya, maka setiap ada hari raya agama tertentu, diadakanlah upacara. Ada halal bihalal, mauludan, rajaban, dst. Ada acara natalan, waisakan, nyepi, imlek, dst. Tentu sudah selayaknya jika pejabat publik yang menjadi milik semua bangsa Indonesia datang dalam acara-acara seperti itu. Kalau presiden dikritik karena mendatangi acara natalan, padahal dia seorang Muslim, maka hanya ada dua kemungkinan: mungkin si pengkritik itu adalah orang yang a-sosial yang tak mengerti adat bertetangga dalam masyarakat, orang kuper yang hanya tahu dirinya sendiri saja; atau dia sedang terkena “sihir” ideologi tertentu yang membuatnya berpikir aneh seperti itu.

2.
Mitos kedua yang disebut oleh Adian adalah bahwa PNB adalah sarana untuk memupuk kerukunan antar umat beragama. Nada tulisan Adian ingin menggiring kita untuk percaya bahwa PNB sama sekali tak akan memupuk kerukunan. Saya tak tahu, apakah Adian juga menghendaki agar kita percaya bahwa bukan hanya tak memupuk kerukunan, tetapi PNB bisa menimbulkan pertikaian antar agama? Kalau yang terakhir ini benar, saya tak tahu lagi, sistem logika mana yang dipakai oleh anggota Komisi “Kerukunan” ini. Maksud saya tentu kerukunan dalam tanda kutip.

Tentu jalan untuk memupuk kerukunan banyak sekali, antara lain lewat pertukaran kunjungan saat hari raya. Kalau kita kembali ke contoh mikro dalam kehidupan sehari-hari, maka saya akan mengatakan bahwa ada banyak cara yang bisa saya tempuh untuk menjadi tetangga yang baik buat tetangga saya yang beragama Kristen atau Budha, misalnya. Cara itu meliputi banyak hal: kalau tetangga saya sedang selamatan untuk promosi jabatan baru, saya akan datang. Kalau saya mengadakan selamatan walimatus safar untuk pergi haji, dia saya undang. Begitulah seterusnya.

Ini juga berlaku pada level kenegaraan. Sudah tentu, jika presiden atau menteri yang beragama Muslim datang dalam acara natalan, masyarakat Kristen akan merasa lega, sebagaimana saya akan lega jika melihat tokoh Kristen datang ke acara-acara Islam. Sebagaimana umat Islam di Amerika merasa senang saat Presiden Bush mengadakan ifthar atau buka bersama di Gedung Putih, begitu pula umat Kristen di Indonesia akan merasa senang jika Pak Presiden yang Muslim dan berpeci datang di acara natalan. Inilah yang dalam studi-studi mengenai multikulturalisme disebut sebagai “politics of recognition” , politik pengakuan. Apakah kita akan mengatakan kepada Presiden Bush bahwa anda salah melakukan buka bersama di Gedung Putih, sebab itu sama saja anda mengakui kebenaran agama Islam. Inikah logika yang hendak dipakai oleh Pak Wakil Komisi Kerukunan MUI?

Dalam politik pengakuan, simbol dan budaya memainkan peran penting. Simbol memainkan peran yang sangat penting dalam masyarakat plural. Karena itu, tak salah, bahkan penting sekali memainkan simbol untuk memupuk kerukunan antaragama. Salah satu simbol yang sangat penting di mata masyarakat adalah simbol-simbol yang berkaitan dengan agama. Upacara-upacara keagamaan memiliki makna yang penting. Dengan memainkan simbol ini secara tepat, kerukunan dalam masyarakat bisa dipupuk dan diperkokoh. Ini hal sederhana yang bisa diketahui oleh semua orang awam. Saya tak tahu, bagaimana seorang anggota Komisi Kerukunan MUI bisa tak mengerti hal yang simpel seperti ini.

Adian menyebut bahwa dalam PNB ditegaskan keyakinan Kristen tentang Yesus sebagai anak Tuhan. Pertanyaan awam yang harus diajukan adalah: Apakah jika seseorang datang ke perayaan Natal dengan sendirinya percaya pada doktrin dan akidah Kristen? Saat Presiden Bush mengadakan buka bersama di Gedung Putih, apakah dia serta merta percaya pada dasar akidah Islam yaitu monoteisme? Saat tetangga saya yang Kristen datang ke rumah untuk menghadiri acara yasinan, apakah dia kemudian berubah iman?

Kalau orang Islam takut dengan histeris datang ke perayaan Natal karena khawatir “tertular” akidah Kristen, ini sungguh mengherankan, betapa lemahnya akidah umat Islam? Di mana dakwah ulama selama ini? Apakah dakwah Islam gagal mencetak Muslim dengan akidah yang kokoh? Ataukah yang bermasalah sebetulnya para “elit” agama yang tak mempercayai kualitas iman umat Islam yang sebetulnya tak sekeropos yang mereka kira?

Adian juga menyebut bahwa sejumlah ayat dalam Injil serta dokumen Kristen tentang keselamatan tunggal melalui Yesus. Apakah Adian lupa bahwa dalam Islam juga ada doktrin serupa, bahwa agama satu-satunya yang benar adalah Islam (inna al-dina ‘inda ‘l-Lahi al-Islam)? Jadi di mana letak soalnya? Saat orang Kristen datang ke kantor Muhammdiyah atau PBNU untuk menghadiri acara keagamaan, tidak dengan sendirinya ia meninggalkan doktrin keselamatan tunggal lewat Yesus dan mempercayai “keselamatan” lewat Islam. Dia datang sebagai bagian dari etiket sosial.

Kalau kemudian ia dapat hikmah dari kehadirannya di acara itu, alhamdulillah. Begitu juga sebaliknya, kalau seorang Muslim datang ke acara natalan, dan mendapatkan hikmah dari acara di sana, tentu sangat baik. Bukankah tidak semua hal dalam Kristen salah dalam pandangan Islam? Banyak sekali ajaran kebenaran dalam agama Kristen. Bukankah “al-hikmah dhallat al-mu’min, ainama wajadaha akhadzaha” (kebijaksanaan adalah barang hilang milik seorang beriman; di manapun ia menjumpainya, sudah selayaknya ia memungutnya) ? Jadi apatah yang ditakutkan, wahai Adian?

3.
Mitos ketiga: Adian menyebut bahwa dalam PNB, seorang Muslim hanya menghadiri upacara non-ritual. Menurut Adian, ini adalah mitos. Seorang yang menghadiri natalan sekaligus menghadiri upacara ibadah atau misa. Alasan yang dikemukakan Adian sungguh menarik sekali: bahwa dalam Kristen tak ada beda yang tegas antara aspek ritual dan non-ritual. Definisi ibadah dalam Kristen berbeda-beda dari satu sekte ke sekte yang lain.

Adian bukanlah pakar mengenai agama Kristen. Jadi, apa yang ia katakan mengenai agama Kristen tak perlu didengarkan dengan serius. Kalau kita ingin tahu mengenai agama Kristen dan batas-batas antara aspek-aspek ritual dan non-ritual dalam acara natalan, sebaiknya tanya langsung kepada pakar Kristen. Sementara itu, kita ikuti saja cara berpikir anggota Komisi “Kerukunan” MUI ini.

Adian mengutip pendapat Huston Smith, pakar mengenai perbandingan agama, seperti berikut ini: “Christianity, is basically a historical religion. It is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happenings.” Saya tak tahu, apa kaitan antara kutipan ini dengan apa yang sedang ia bicarakan. Kutipan itu menegaskan bahwa Kristen adalah agama yang bersifat historis, bukan agama yang ditegakkan atas prinsip-prinsip abstrak. So? Apa kaitannya? Saya tahu apa yang mau dituju oleh Adian: karena agama Kristen adalah agama historis, maka dia akan menyesuaikan diri dengan perkembangan sejarah; tak mengenal doktrin dan ritual yang tetap, selalu berubah. Kalau benar ini yang dimaksud, saya ragu apakah benar semua hal dalam Kristen berubah terus. Dalam setiap agama, selalu ada aspek yang tetap, permanen, dan ada hal yang bisa diubah. Agama yang baik adalah yang bisa memainkan keseimbangan antara hal-hal yang permanen dan berubah. Tetapi, seberapa jauh
agama mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, atau “aggiornamento” dalam istilah Katolik, sangat menentukan nasib agama itu. Secara umum, makin agama mampu berubah dan menyesuaikan diri, tanpa kehilangan jati diri, makin baik.

Yang menarik adalah Adian mengutip dari Prof. Huston Smith, seorang sarjana yang memiliki simpati luar biasa pada Islam, juga pada agama-agama yang lain. Buku Smith, “The World’s Religion” dipuji di mana-mana sebagai salah satu buku yang membantu kita memahami dengan simpatik agama-agama besar di dunia saat ini. Pendekatan Smith dalam buku itu adalah mencoba mengembangkan simpati pada semua agama, sebab pada intinya semua agama membawa “benih” yang sama, yakni jalan menuju kepada yang transenden. Semangat seperti dikembangkan Smith inilah yang layak dihayati oleh orang-orang yang hendak memupuk kerukunan antaragama.

Betapa jauhnya semangat Prof. Smith ini dengan nada hampir sebagian besar tulisan Adian yang apologetik, curiga pada agama lain, curiga pada wacana pluralisme, dan tak nyaman dengan dialog antaragama.

Yang menarik lagi adalah Adian mengutip tulisan Remi Silado yang mengkritik ritual natalan. Menurut Remi, tradisi Natal merupakan kelanjutan dari tradisi pagan dan istiadat kafir. Kita semua tahu, Remi walau dikenal dengan puisi-puisi mbeling, tetapi dia tetaplah seorang Kristen yang taat. Dia kritis pada tradisi dalam Kristen sendiri, tetapi tak kehilangan komitmen pada agama itu. Kritik atas Natal yang diungkapkan oleh Remi ini sudah diketahui luas oleh kalangan Kristen. Pihak Kristen tidak kalang kabut dengan kritik seperti ini. Betapa bedanya semangat seperti ini dengan semangat tulisan-tulisan Adian yang apologetik dan defensif saat ada orang-orang yang mengkritik tradisi tertentu dalam Islam. Bisakah Adian bersikap seperti Remi Silado yang dikutipnya itu?

4.
Mitos terakhir: dalam perayaan natalan, menurut Adian, terselip misi kristenisasi. Di sini terbuka kedok sesungguhnya yang dikenakan Adian. Dia sama sekali bukanlah orang yang menghayati semangat dialog ataragama dan tugas membangun kerukunan antaragama. Mindset Adian adalah selalu mencurigai agama lain sebagai agama yang akan melakukan ekspansi. Acara natalan dicurigainya sebagai alat untuk kristenisasi. Sebagai bekas pengurus DDII tentu kita tak perlu kaget dengan watak Adian seperti ini. Tetapi, sungguh amat kita sayangkan orang seperti ini diserahi tugas membina kerukunan umat beragama. Kerukunan seperti apa yang akan lahir dari orang seperti ini?

Mendakwahkan agama adalah tugas mulia setiap agama. Umat Islam sudah seharusnya mendakwahkan agamanya. Umat Kristen idem ditto. Begitu pula umat agama-agama lain. Asal dakwah dijalankan dengan beradab dan fair, tentu kita dukung. Dakwah yang menggunakan cara-cara yang curang, tentu kita tentang. Membujuk orang Islam agar masuk Kristen dengan diiming-imingi materi, misalnya, tentu kita tentang. Kalangan Krsiten sendiri mencela cara-cara culas seperti itu.

Tetapi ini semua tentu beda dengan sikap paranoid yang mencurigai setiap kegiatan sosial umat Kristen sebagai alat kristenisasi. Mencurigai acara natalan sebagai sebagai alat kristenisasi tak lain adalah bentuk dari paranoia. Kenapa kita tak bisa menggunakan pendekatan “positive thinking”, bahwa acara natalan, lebaran, mauludan, dan sebagainya, adalah sarana untuk memupuk kerukunan, solidaritas kebangsaan?

Membina kerukunan antaragama membutuhkan positive thinking, bukan negative thinking seperti diperagakan oleh Wakil Ketua Komisi Kerukunan MUI itu.

Wa ‘l-Lahu a’lam bi ‘l-shawab. ~