PANGGILAN PROFETIS GEREJA UNTUK MEMBELA HAK ASASI MANUSIA TAK DAPAT

PANGGILAN PROFETIS GEREJA UNTUK MEMBELA HAK ASASI MANUSIA TAK DAPAT
DITAWAR, KATA PASTOR AHLI HUKUM

Yogyakarta, DIY (UCAN) — Perjuangan untuk menegakkan hak asasi manusia
(HAM) sangat dekat dengan perjuangan Yesus Kristus, kata Pastor Martino
Sardi pengamat masalah hak asasi manusia.

“Semakin gereja memperjuangkan hak asasi manusia, semakin institusi
ini dekat dengan Yesus, sebab Yesus identik dengan hak asasi
manusia
,” kata Pastor Sardi dalam presentasinya pada seminar
“Perjuangan Gereja dalam Menegakkan Hak Asasi Manusia dan
Demokrasi,” pada 8 Desember lalu di aula Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Pastor Fransiskan itu berbicara di hadapan 300 pemuka agama, cendekiawan
dan aktivis sosial dalam seminar yang diadakan dalam rangka menyambut
Hari HAM Internasional 10 Desember. Pastor Sardi adalah ketua Pusat
Studi Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Menurut Pastor Sardi, doktor bidang hukum, Yesus tetap membuka diri bagi
pendosa walaupun dia benci akan dosa. Yesus berjuang untuk Kerajaan
Allah untuk mengangkat hak asasi manusia dan menyejahterakan manusia.
Oleh karena itu, katanya, Gereja tidak layak menyebut dirinya Gereja
Kristus, apabila Gereja tidak berjuang membela hak asasi manusia.

Gereja yang bisu dan menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitarnya
dapat dikatakan sebagai Gereja yang jahat, kata Pastor Sardi. Ia
berharap Gereja mau berperan seperti Nabi Yeremia (dalam Perjanjian
Lama) yang mengkritisi kondisi dan sistem kemasyarakatan pada zamannya.
Mantan dosen Hak Asasi di Universitas Pontifikal Antonianum di Roma itu
tidak setuju apabila dikatakan bahwa hak asasi merupakan produk barat
dan Kristen. Menurutnya semua agama samawi (agama berdasarkan wahyu) —
Kristen, Islam, Yahudi – menjunjung tinggi dan menghormati hak asasi
manusia
.

Menurut Pastor Sardi, ada dua elemen penting yang diperlukan untuk
memahami agama samawi yaitu hubungan antarmanusia dan hubungan manusia
dengan Allah. Hak asasi penting bagi hubungan antar manusia, katanya.
“Semakin manusia menghargai hak asasi manusa, dia dapat dikatakan
semakin beradab dan beriman.” Ia menambahkan, semakin suatu
institusi agama tidak menghargai hak asasi manusia, semakin nampak bahwa
institusi yang mengatasnamakan Allah itu kurang beradab.
Pastor Sardi menyayangkan kenyataan bahwa pelanggaran hak asasi menjadi
tantangan serius bagi umat Kristen di Indonesia.
“kekerasan-kekerasa n itu tidak dapat ditolerir lagi,” katanya.

Dia mengutip sebuah laporan bahwa telah ada 858 gereja yang dihancurkan
di negeri ini dalam masa pemerintahan lima presiden sejak 1945-2004.
  Dia mengakui bahwa Konferensi Waligereja Indonesia telah berusaha
membela hak asasi dan menjunjung tinggi martabat manusia dengan
menerbitkan surat-surat gembala. “Namun peranan yang lebih aktif
lagi kiranya masih diharapkan. Justru di tengah arus begitu banyaknya
orang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia, peranan Gereja
dipertanyakan kembali,” katanya.

Pembicara lain yang hadir pada seminar itu adalah Pastor Fransiskus
Assisi Purwanto, seorang dosen hak asasi manusia di Universitas Sanata
Dharma, dan Agustine Nunuk Prasetyo Murniati, seorang teolog feminis
Katolik.
Pastor Purwanto menggarisbawahi pengakuan Gereja terhadap hak asasi
manusia
sementara Murniati berbicara tentang pelanggaran hak asasi
perempuan oleh Gereja. sumber: http://www.ucanews. com/

Yogyakarta, DIY (UCAN) — Perjuangan untuk menegakkan hak asasi manusia
(HAM) sangat dekat dengan perjuangan Yesus Kristus, kata Pastor Martino
Sardi pengamat masalah hak asasi manusia.

“Semakin gereja memperjuangkan hak asasi manusia, semakin institusi
ini dekat dengan Yesus, sebab Yesus identik dengan hak asasi
manusia
,” kata Pastor Sardi dalam presentasinya pada seminar
“Perjuangan Gereja dalam Menegakkan Hak Asasi Manusia dan
Demokrasi,” pada 8 Desember lalu di aula Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.
Pastor Fransiskan itu berbicara di hadapan 300 pemuka agama, cendekiawan
dan aktivis sosial dalam seminar yang diadakan dalam rangka menyambut
Hari HAM Internasional 10 Desember. Pastor Sardi adalah ketua Pusat
Studi Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Menurut Pastor Sardi, doktor bidang hukum, Yesus tetap membuka diri bagi
pendosa walaupun dia benci akan dosa. Yesus berjuang untuk Kerajaan
Allah untuk mengangkat hak asasi manusia dan menyejahterakan manusia.
Oleh karena itu, katanya, Gereja tidak layak menyebut dirinya Gereja
Kristus, apabila Gereja tidak berjuang membela hak asasi manusia.

Gereja yang bisu dan menutup mata terhadap ketidakadilan di sekitarnya
dapat dikatakan sebagai Gereja yang jahat, kata Pastor Sardi. Ia
berharap Gereja mau berperan seperti Nabi Yeremia (dalam Perjanjian
Lama) yang mengkritisi kondisi dan sistem kemasyarakatan pada zamannya.
Mantan dosen Hak Asasi di Universitas Pontifikal Antonianum di Roma itu
tidak setuju apabila dikatakan bahwa hak asasi merupakan produk barat
dan Kristen. Menurutnya semua agama samawi (agama berdasarkan wahyu) —
Kristen, Islam, Yahudi – menjunjung tinggi dan menghormati hak asasi
manusia
.

Menurut Pastor Sardi, ada dua elemen penting yang diperlukan untuk
memahami agama samawi yaitu hubungan antarmanusia dan hubungan manusia
dengan Allah. Hak asasi penting bagi hubungan antar manusia, katanya.
“Semakin manusia menghargai hak asasi manusa, dia dapat dikatakan
semakin beradab dan beriman.” Ia menambahkan, semakin suatu
institusi agama tidak menghargai hak asasi manusia, semakin nampak bahwa
institusi yang mengatasnamakan Allah itu kurang beradab.
Pastor Sardi menyayangkan kenyataan bahwa pelanggaran hak asasi menjadi
tantangan serius bagi umat Kristen di Indonesia.
“kekerasan-kekerasa n itu tidak dapat ditolerir lagi,” katanya.

Dia mengutip sebuah laporan bahwa telah ada 858 gereja yang dihancurkan
di negeri ini dalam masa pemerintahan lima presiden sejak 1945-2004.
  Dia mengakui bahwa Konferensi Waligereja Indonesia telah berusaha
membela hak asasi dan menjunjung tinggi martabat manusia dengan
menerbitkan surat-surat gembala. “Namun peranan yang lebih aktif
lagi kiranya masih diharapkan. Justru di tengah arus begitu banyaknya
orang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia, peranan Gereja
dipertanyakan kembali,” katanya.

Pembicara lain yang hadir pada seminar itu adalah Pastor Fransiskus
Assisi Purwanto, seorang dosen hak asasi manusia di Universitas Sanata
Dharma, dan Agustine Nunuk Prasetyo Murniati, seorang teolog feminis
Katolik.
Pastor Purwanto menggarisbawahi pengakuan Gereja terhadap hak asasi
manusia
sementara Murniati berbicara tentang pelanggaran hak asasi
perempuan oleh Gereja. sumber: http://www.ucanews. com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: