GUS DUR, KOMUNITAS UTAN KAYU, FPI DAN “PERANG KEBUDAYAAN”


Pemberangusan Gus Dur di KUK dan “Perang Kebudayaan”

Seorang teman yang mukim di Tangerang mengirimkan temuan menarik, yaitu hubungan usaha pembungkaman Gus Dur dan Komunitas Utan Kayu (KUK):

1. Empat hari yang lalu stasiun Jogja TV memutuskan untuk tidak menyiarkan acara “Kongkow-Kongkow dengan Gus Dur.” Rupanya keputusan itu diambil karena ancaman lewat telepon yang mengaku dari Front Pembela Islam (FPI). Gerombolan ini memberitahu, kalau Yogya TV menyiarkan acara itu, gedung mereka akan diserbu.

Tetapi teror itu gagal. Ternyata sejumlah ormas Islam menegaskan kepada direksi Jogja TV untuk meneruskan program “KongKow” . Di antara mereka malah menyatakan siap menjaga stasiun Yogya TV dari serangan FPI.

2. Acara Gus Dur yang akan diserang FPI itu diproduksi oleh Kantor Berita 68H dan School of Broadcasting Media, kedua-duanya bagian dari Komunitas Utan Kayu (KUK).

3. Setiap hari Sabtu pagi pukul 10, Gus Dur hadir di KUK, untuk wawancara interaktif di Radio 68H dan juga bertemu masyarakat, tempatnya di kedai yang terletak di KUK, “Kedai Tempo”.

4. KUK sendiri pernah dicoba diserang FPI sekitar bulan Juli sampai Oktober 2005. Usaha ini gagal, karena KUK dijaga oleh sejumlah besar aktivis bersama satu regu Banser.

5. Ulil Abshar Abdalla, tokoh Jaringan Islam Liberal, (yang seperti aktivis Jaringan Islam LIberal lain adalah anggota generasi muda NU), adalah salah satu aktivis KUK sejak KUK berdiri, dimulai dengan berdirinya Institut Studi Arus Informasi (ISAI) di tahun 1996. Di tahun 2002, setelah artikelnya dimuat di Kompas, Ulil diancam dibunuh. Darahnya halal. Sejak itu untuk Ulil selalu disiapkan penjagaan ke mana pun ia pergi — sebelum ia ke AS untuk melanjutkan studinya di Harvard University.

6. Hubungan Jaringan Islam Liberal dengan KUK antara lain: Ahmad Sahal, salah satu pendiri jaringan itu, pernah bersama Ayu Utami menjadi kurator bagi program teater Utan Kayu (TUK).

7. Pertentangan antara para aktivis KUK (seniman, wartawan, dan lain-lain) dengan para pendukung “syariat-isasi” kebudayaan kembali menajam dalam soal Rancangan Undang-undang anti porno-grafi dan porno–aksi, sebab “orang-orang KUK” ikut terlibat dalam gerakan yang menentang RUU itu.

8. Serangan lain terhadap orang-orang KUK dimulai oleh Taufiq Ismail. Pada tanggal 20 Desember 2006 silam, Taufiq Ismail berpidato di Taman Ismail Marzuki, menyerang apa yang disebutnya “sastra selangkangan” . Sebagaimana diulanginya dalam tulisan-tulisannya, ia juga memperkenalkan akronim GSM (Gerakan Syahwat Merdeka) dan FAK (Fiksi Alat Kelamin). Ia menyebut Ayu Utami sebagai salah satu pelopor FAK.

9. Pada tanggal 20-22 Juli 2007, di “Rumah Dunia”, Serang, Banten, dimaklumkan Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung yang antara lain “menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika”. Walaupun kata KUK atau TUK tidak disebut, diketahui bahwa pernyataan itu merupakan serangan kepada KUK, yang dianggap membawa “arogansi dan dominasi” komunitas. Konseptor pernyataan itu antara lain: Gola Gong, Saut Situmorang, dan Wowok Hesti Prabowo.

10. Sejak itu, beredar selebaran Boemi Poetera yang memuat tulisan (termasuk “wawancara imajiner”) yang menggambarkan aktivis KUK sebagai orang-orang yang menganut “seks bebas”. Yang sering digambarkan sebagai tokoh jahat adalah Goenawan Mohamad dan Ayu Utami. Tidak diketahui sejauh mana hubungan pengasuh selebaran ini dengan Taufiq Ismail dan “Rumah Dunia”, tetapi jelas mereka mempunyai sasaran yang sama, yaitu KUK.

Kesimpulan sementara yang dapat diambil ialah: sebuah “perang kebudayaan” sedang berlangsung diam-diam, antara dua kubu: kubu KEMERDEKAAN (yang pro kemerdekaan bersuara dan kebhinekaan ekspresi), melawan kubu SYARIAT (yang membuat aliansi taktis dengan sastrawan anti-KUK seperti Saut Situmorang).

Selengkapnya klik:

http://culture- indonesia. blogspot. com