Pope Benedict Appeals For Peace In Myanmar, Reconciliation In Korea


source: http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4402
VATICAN – Pope Benedict Appeals For Peace In Myanmar, Reconciliation In Korea

By Gerard O’Connell, Special Correspondent in Rome

VATICAN CITY (UCAN) — Pope Benedict XVI has expressed spiritual closeness and solidarity with the people of Myanmar and invited people worldwide to pray for a peaceful solution to the crisis there.

Pope Benedict also urged prayers to support reconciliation efforts in Korea.

The pontiff made these appeals shortly after midday on Sept. 30 after reciting the Angelus with hundreds of pilgrims from many countries at Castel Gandolfo, the papal summer residence outside Rome.

Concerning the dramatic situation in Myanmar, the pope said, “I follow with great trepidation the most serious events of these days in Myanmar, and I desire to express my spiritual closeness to that dear population in this moment of painful trial which it is going through.”

“While I assure my solidarity and intense prayer, I invite the whole Church to do likewise, and I keenly hope that a peaceful solution be found for the good of the country,” he said.

Vatican sources say the pope closely followed the past week’s developments as Myanmar’s military violently suppressed peaceful protests led by Buddhist monks in Yangon, the country’s largest city. He was aware that several Buddhist monasteries had been violated and sealed off, and Internet access was blocked across the country.

According to some diplomatic sources cited by media, security forces killed about 200 protesters, beat or wounded many others, and imprisoned around 850 monks and democracy leaders.

The pope’s remarks came two days after leaders of Myanmar’s 4 million Christians, including 600,000 Catholics, sent an appeal on Sept. 28 to General Than Shwe, chairman of the State Peace and Development Council, the military junta that rules the country. Their message expresses “great worry and special concern for the current situation and commotion happening in the country.”

The Christian leaders’ letter, signed by Archbishop Charles Bo, general secretary of the Catholic Bishops Conference of Myanmar, and Archbishop Samuel Mahn, president of the Myanmar Council of Churches, implores the head of the military government “to handle this case with the paternal love and with peaceful solution in order that there will be stability, peace and non-violence, which are also the desire of the people.”

Also on Sept. 28, Archbishop Orlando Quevedo of Cotabato, Philippines, secretary general of the Federation of Asian Bishops’ Conferences, sent a letter of solidarity to the Myanmar bishops.

After inviting prayers for a peaceful solution in Myanmar, Pope Benedict spoke about recent positive developments on the Korean peninsula and his wish to encourage the process. He said, “I also recommend to your prayers the situation in the Korean peninsula, where some important developments in the dialogue between the two Koreas give hope that the efforts for reconciliation that are underway may be consolidated in favor of the Korean people and to the benefit of the stability and peace of the entire region.”

Both governments of that divided peninsula simultaneously announced on Aug. 8 that South Korea’s President Roh Moo-hyun would meet North Korea’s leader Kim Jong-il Aug. 28-30 in Pyongyang. However, the summit was postponed until Oct. 2-4 due to serious flood damage in the North during August.

According to media, Roh is now expected to walk across the heavily fortified inter-Korean border on Oct. 2. His predecessor, Kim Dae-Jung, flew to the North for the first inter-Korean summit in June 2000, also in Pyongyang.

During the upcoming summit, local media say, the North and South Korean leaders will meet four-to-six times and discuss how to improve relations to achieve national unity and the country’s reunification.

The Korean peninsula has been divided since World War II ended in 1945, and deep scars remain from the 1950-53 Korean War.

-END-

Kaum Muslim dan Umat Kristen: Dipanggil Untuk Mempromosikan Kebudayaan Damai


sumber: http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4407
PESAN DI AKHIR RAMADAN UNTUK IDUL FITRI 1428 H. / 2007 A.D.

Kaum Muslim dan Umat Kristen: Dipanggil Untuk Mempromosikan Kebudayaan Damai

Rekan-Rekan Kaum Muslim Yang Terkasih,

1. Ini merupakan suatu kebahagiaan khusus bagi saya untuk pertama kali mengirim pesan hangat penuh persahabatan dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama pada Hari Raya Idul Fitri Anda yang penuh kegembiraan di saat bulan puasa Ramadan yang penuh doa berakhir. Bulan ini selalu merupakan suatu kesempatan penting bagi komunitas kaum Muslim dan memberi setiap individu Muslim suatu kekuatan baru untuk eksistensi personal, keluarga, dan sosialnya. Penting bahwa semua kita memberi kesaksian tentang keyakinan agama kita dengan suatu kehidupan terus terintegrasi dan menyatu dengan rencana Sang Pencipta, suatu kehidupan menaruh perhatian pada pelayanan saudara-saudari kita dalam solidaritas dan persaudaraan yang semakin kental dengan penganut agama lain dan semua orang yang berkehendak baik, dengan kerinduan untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama.

2. Di masa-masa sulit yang sedang kita lewati, umat beragama, sebagai hamba dari Yang Mahakuasa, bagaimanapun bertanggungjawab untuk mengupayakan perdamaian, dengan memperlihatkan rasa hormat terhadap kebebasan hati nurani, yang merupakan hak individu dan komunitas di mana saja melalui praktek kebebasan beragama. Kebebasan beragama, yang tak boleh direduksi ke semata-mata kebebasan beribadat, merupakan satu dari aspek-aspek esensial kebebasan hati nurani, yang merupakan hak setiap individu dan batu sendi hak asasi manusia. Perlu dipertimbangkan persyaratan yang perlu bagi sebuah kebudayaan damai dan solidaritas di antara umat manusia untuk dibangun, yang di dalamnya setiap orang dapat sepenuhnya terlibat dalam pembangunan masyarakat yang terus meningkatkan persaudaraan, dengan melakukan apa saja untuk menyingkirkan, mengutuk, menolak setiap hal yang menimbulkan kekerasan yang tak pernah mungkin digerakkan oleh agama, karena kekerasan itu melukai citra Allah di dalam manusia. Kita tahu bahwa kekerasan, terutama terorisme yang menyerang secara membabi buta dan menjatuhkan korban tak berdosa yang tak terbilang jumlahnya, tidak mampu menyelesaikan konflik-konflik. Kekerasan itu hanya menciptakan mata rantai yang mematikan dari kebencian yang merusak, dan yang menciptakan kerusakan umat manusia dan masyarakat.

3. Sebagai umat beriman, semua itu terserah kepada kita apakah kita mau menjadi pendidik perdamaian, pendidik hak asasi manusia, pendidik kebebasan yang menghormati setiap pribadi. Selain itu, perlu juga ada kepastian tentang jalinan sosial yang senantiasa kuat, karena manusia harus memperhatikan saudara-saudarinya tanpa diskriminasi. Tidak ada individu dalam komunitas bangsa harus dikecualikan hanya karena alasan ras, agama, atau karakteristik pribadi lain apapun. Bersama-sama, sebagai penganut agama yang berbeda, kita dipanggil untuk menyebarkan suatu ajaran yang menghormati manusia. Kita dipanggil untuk menyebarkan sebuah pesan kasih di antara individu maupun bangsa. Kita secara khusus bertanggungjawab untuk memastikan bahwa orang-orang muda kita, yang akan memikul tanggung jawab terhadap dunia di masa depan, dibentuk dalam semangat ini. Bagaimanapun, ini merupakan tanggung jawab keluarga dan kemudian mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan para pemimpin masyarakat dan agama. Mereka semua bertugas untuk memperhatikan penyebaran suatu ajaran yang adil. Mereka harus menyediakan pendidikan yang memadai bagi setiap pribadi sesuai keadaan tertentu, terutama pendidikan kewarganegaraan yang mengajak setiap orang muda untuk menghormati orang-orang disekitarnya, dan untuk melihat mereka sebagai saudara-saudari yang bersamanya dipanggil untuk hidup setiap hari, bukan dengan bersikap acuh tak acuh, tetapi peduli sebagai saudara. Ini lebih mendesak dari apapun, dan ini perlu diajarkan kepada generasi muda tentang nilai-nilai kemasyarakatan, moral, dan kemanusiaan yang fundamental. Ini perlu baik untuk kehidupan komunitas dan personal.

Semua kekasaran harus digunakan untuk mengingatkan kaum muda tentang apa yang sedang menanti mereka dalam kehidupan sosial. Yang menjadi ukuran adalah kesejahteraan bersama dalam masyarakat dan di seluruh dunia.

4. Dalam semangat ini, adanya dan mendalamnya dialog antara umat Kristen dan kaum Muslim harus dianggap penting, baik dalam dimensi pendidikan maupun kultural. Maka segenap kekuatan dapat dikerahkan dalam pelayanan manusia dan kemanusiaan, sehingga generasi muda tidak menjadi blok budaya dan agama yang saling berlawanan, tetapi saudara dan saudari sejati dalam kemanusiaan. Dialog merupakan alat yang dapat membantu kita untuk keluar dari spiral konflik dan berbagai ketegangan terus menerus dalam masyarakat, sehingga segenap masyarakat dapat hidup tenang dan damai, saling menghormati, dan rukun di antara komponen kelompok.

Agar semua ini tercapai, dengan sepenuh hati saya mohon kepada kalian untuk sedikit memperhatikan kata-kata saya, sehingga, melalui kontak dan pertukaran, umat Kristen dan kaum Muslim akan bekerja sama dalam rasa saling menghormati demi perdamaian dan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Kerja sama itu akan menjadi teladan untuk diikuti dan ditiru oleh orang muda dewasa ini. Dengan begitu, mereka akan memiliki keyakinan yang baru dalam masyarakat dan akan melihat kemajuan dalam menyatu dan terlibat transformasi sosial. Pendidikan dan teladan juga akan menjadi sumber harapan bagi mereka di masa depan.

5. Ini adalah harapan penuh bersemangat yang saya bagikan dengan kalian: umat Kristen dan kaum Muslim terus mengembangkan hubungan yang konstruktif dan penuh persahabatan untuk saling berbagi kekayaan khusus mereka, dan bahwa mereka akan secara khusus memperhatikan mutu kesaksian dari sesama umat mereka.

Sahabat-sahabat Muslim yang terkasih, sekali lagi saya sampaikan salam hangat saya pada kesempatan pesta yang kalian rayakan dan saya mohon kepada Allah sumber Perdamaian dan Kerahiman untuk menganuegrahkan kesehatan yang baik, ketenangan, dan kemakmuran kepada kalian.

Jean-Louis Kardinal Tauran

Ketua

Uskup Agung Pier Luigi Celata

Sekretaris

-END-