MASUKAN BAGI CALON PENULIS KOMPAS


Disalin dari milis Forum Pembaca Kompas.
Barangkali bermanfaat bagi pembaca.

Kamis sore, 20 September 2007, pk. 16.00 — 18.45 WIB, Kompas JawaBarat mengundang segenap penulis lepas di koran tersebut untuk bukapuasa/ saum bersama (Ifthor Jama’i) di Grha Kompas Jln. Riau No. 46 Bandung. Di gedung megah inilah, tepatnya di lantai II, diadakan temu penulis dari berbagai kalangan, beragam tema, baik fiksi maupun fakta (nonfiksi). Ada kurang lebih 70-an orang yang hadir, mulai dari usia di atas 60 tahun, usia paruh baya, sampai usia likuran (mahasiswa S1).

Dalam sambutan pembukaannya, Dedi Muhtadi, Kabiro Kompas Jawa Barat memaparkan tentang “Menulis Artikel di Kompas”. Ada 10 poin yang menjadi sebab sebuah artikel di kompas tidak dimuat. Berikut ini ringkasannya.

1. Temanya tidak aktual, tak terkait dengan kekinian.

2. Lebih dari 1.000 kata dengan MS Word.

3. Bahasannya terlalu mikro atau lokal.

4. Konteksnya tidak jelas.

5. Bahasa, pilihan kata, terlampau ilmiah, akademis, kurang populer.

6. Paparannya sumir.

7. Penyajiannya seperti pidato, makalah, diktat kuliah.

8. Sumber kutipan tidak jelas.

9. Terlalu banyak kutipan, tanpa pendapat sendiri.

10. Tidak runtut, idenya meloncat-loncat.

Yang juga penting adalah jumlah penulis. Penulisnya harus HANYA satu. TIDAK boleh dua apalagi lebih. Tak boleh ada “lokomotif” penulis bagi penulis lainnya. Mau tak mau, para (calon) penulis hendaklah mengikuti tata-krama itu. Sebab, ya… itulah kebijakan khas dapur redaksi Kompas sebagai koran kuat beroplah sarat dan bagai gula yang dikerubuti semut-semut penulis dari seluruh Indonesia, bahkan mukimin di luar negeri, luar negara. Ia bagai gadis ayu yang hendak disunting semua penulis.

Berkaitan dengan kiriman artikel, Kompas Jawa Barat rata-rata menerima sepuluh artikel per hari. Demikian kata Pak Dedi Muhtadi. Dan yang dimuat sebanyak…. ……… …. atau sesedikit… ……… ……. satu artikel saja per hari. Bayangkan… …. hanya SATU tulisan per hari. Artinya, di antara penulis yang hadir dalam acara itu pun bersaing ketat. SANGAT ketat. Namun, mereka toh… tetap bisa ngobrol dan makan bersama….. ! Asmat….. : asyik nan nikmat!

Bagi Kompas, menulis di kolom Opini, Forum, atau apapun namanya bukanlah untuk mencari nama “kan sudah bernama sejak lahir, tho…? he he he “, pun bukan untuk mendapatkan uang, melainkan untuk intellectual excercise. Begitulah kata Pak Dedi. Satu poin yang melegakan hadirin, kalau bisa disebut demikian, adalah pengembalian artikel dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatny a. (Proklamartikel ya). Artinya, redaksi dituntut untuk segera menilik semua artikel yang masuk lalu memberikan keputusan atas artikel yang akan dimuat dan yang dikembalikan. Dari lontaran yang muncul di forum itu, para penulis menghargai balasan surat, e-mail, sutel redaksi
meskipun artikelnya tak dimuat.

Setelah sesi tanya jawab, acara lantas beralih ke buka bersama tepat pk. 17.48 WIB. Dengan beragam menu yang ditata rasmanan, satu per satu hadirin, sambil antri dan ngobrol, menjumput kue, kolak, irisan buah-buahan, puding, nasi plus lauk-pauk dan sayurnya. Setelah shalat Maghrib, beberapa penulis berbincang-bincang dan akhirnya bubar
menjelang adzan Isya’.

Itulah poin bagus buat Kompas Jawa Barat yang berupaya peduli kepada penulis-penulisnya. *

FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa


24/09/2007 05:33 Penertiban
FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa

Liputan6.com, Bantul: Sekitar 100 anggota Front Pembela Islam (FPI)Ciamis, Jawa Barat, Ahad (23/9), bertindak keras terhadap warung-warung makan yang dianggap tidak menghormati bulan puasa. Tempat-tempat yang dicurigai menjual minuman beralkohol juga tidak luput dari razia.

Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

Tak hanya itu, seorang pria yang dianggap preman turut dipukuli tanpa alasan yang jelas. Terminal bus Ciamis ikut menjadi sasaran razia. Salah satu warung jamu yang menjual minuman keras didobrak. Satu dus minuman keras diambil dan dihancurkan di depan kios.

Selama razia, praktis tidak ada polisi yang terlihat di lokasi.
Sedangkan warga tak dapat berbuat apa-apa menyaksikan tindakan tersebut. Dihubungi melalui telepon, Kepala Kepolisian Resort Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi Aries Syarief menyatakan, ia menyayangkan adanya kekerasan dalam razia tersebut.

Situasi berbeda di Bantul, Yogyakararta, saat laskar Front Jihad
Islam merazia tempat maksiat dan lokasi penjualan minuman keras, pekan silam. Ketika itu, aparat Polres Bantul bertindak keras dan meminta razia dihentikan. Alasannya, warga sipil tidak berwenang menggelar razia [baca: Sweeping Front Jihad Indonesia Dibubarkan Polisi].(BOG/ Tim Liputan 6 SCTV)