BENARKAH MALAYSIA DAN ARAB SAUDI SAHABAT KITA?


  BENARKAH MALAYSIA DAN ARAB SAUDI SAHABAT KITA?

 

Oleh Pormadi Simbolon

 

friendship ScratesBelum lama ini, kita dikejutkan oleh berita pemukulan semena-mena terhadap wasit karate dan penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Malaysia. Sebelumnya, kita juga dikejutkan pernyataan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia yang mengatakan bahwa kematian buruh migran Indonesia di Arab Saudi merupakan takdir. Melihat sikap kedua negara tersebut, benarkah mereka (kedua negara tersebut) menjadi sahabat bagi Republik Indonesia?

 

Padahal selama ini, sebagian warga bangsa ini sangat membanggakan warga Malaysia dan Arab Saudi yang datang ke Indonesia sebagai warga dari negara sahabat kita. Bila warga negara Indonesia (WNI) datang ke Malaysia dan Arab Saudi, warga mereka tidak bersahabat dengan kita, warga Indonesia. Yang kita lihat adalah anggapan WNI sebagai pendatang gelap, pelecehan terhadap buruh migran kita, deportasi, pemerkosaan, penganiayaan, ancaman hukuman mati sampai kematian yang mengenaskan buruh Indonesia di negara “sahabat”.

 

Arti Seorang Sahabat

 

Sahabat dalam Kamus Bahasa Indonesia (Badudu-Zain, 2001) diartikan pertama-tama (1) pengikut nabi (Nabi Muhammad SAW) seperti Abu Bakar Sidik, lalu kedua (2) teman yang akrab, yang erat hubungannya dengan kita. Seorang sahabat berarti seorang teman yang akrab, dan erat hubungannya dengan kita. Semakin akrab lagi, arti sahabat itu, jika dikaitkan dengan pengertian pertama, bahwa Indonesia, Malaysia dan Arab Saudi adalah sama-sama memiliki mayoritas pengaku Nabi Muhammad SAW sebagai Utusan Allah.

 

Dari pengertian sahabat di atas, persahabatan antara Indonesia-Malaysia dan Indonesia-Arab Saudi belum terjadi. Sekurang-kurangnya dari pihak mereka, Indonesia belum dipandang sebagai sahabat melainkan sebagai pengekspor TKI (pembantu rumah tangga dan buruh kasar) terbesar yang menjadi obyek penganiayaan dan penghinaan mereka.

 

Mendengar perlakuan negara-negara “sahabat” tersebut terhadap TKI, telinga kita memerah dan hati kita terluka. Rasanya, Indonesia berada dibawah telapak kaki mereka. Martabat bangsa kita direndahkan dan kematian para TKI dianggap sudah menjadi takdir. Inikah arti sahabat yang sesungguhnya?

 

Seorang sahabat memandang yang lainnya sahabat bila ada sikap, hormat, adil dan sejajar dalam persahabatannya. Sahabat adalah teman di saat suka dan duka. Sahabat adalah dia yang melakukan “ke-saling-an” (reciprocal agent), yaitu pelaku kesalingan dalam hal saling menghormati, saling menghargai dan saling menolong.

 

Seorang sahabat adalah seorang yang amat perlu dalam setiap keadaan hidup manusia, siapapun dia dan kapan saja. Aristoteles mengartikan persahabatan adalah suatu kebajikan dan sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab tak seorang pun dapat hidup tanpa sahabat, bahkan sekiranya ia sudah mempunyai kepenuhan harta milik. “Friendships is a virtue, or involves virtue, and besides is most necessary for our life. For no one would choose to live without friends even if he had all the other goods” (Aristotle, Nichomachean Ethics, 1155 a1-15).

 

Dalam konteks hubungan individu, arti seorang sahabat menurut Aristoteles mempunyai makna mendalam dalam tata hidup bersama. Kita membutuhkan sahabat dalam menyempurnakan kehidupan kita sebagai manusia karena manusia tidak dapat hidup memanusiawi tanpa sahabat. Persahabatanlah yang mencetuskan kesetiakawanan, kebersamaan, kekerabatan, ketetanggaan, kekeluargaan, keserumpunan, dan sejenisnya.

 

Lebih dalam lagi makna persahabatan melampaui kesetiaan pada peraturan religius, agama, atau aneka peraturan sakral lainnya. Itu berarti segala sikap dan tindakan ketaatan kepada ajaran agama atau peraturan suci tidak bermakna apa-apa kalau tidak diterjemahkan dalam sikap dan perilaku bersahabat, adil, sejajar, dan akrab. Persahabatan sejati adalah sikap dan perilaku yang mengedepankan keadilan, kesejajaran dan keakraban.

 

Persahabatan” Indonesia-Malaysia dan Indonesia Arab Saudi

 

Dalam konteks hubungan persahabatan antara negara seperti Indonesia-Malaysia, Indonesia belum dipandang sebagai sahabat. Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia, Syeh Albar, ketika berada di Jakarta dan pada saat yang yang sama, terjadi kasus penganiayaan WNI oleh polisi Malaysia, tidak menyampaikan permintaan maafnya. Bahkan Duta Besar Malaysia sempat mengatakan hanya sebatas penyesalan atas kasus wasit Indonesia di Kuala Lumpur. Alangkah sombongnya seorang perwakilan sahabat, tidak menujukkan sikap bersahabat. Padahal, sudah jelas sekali, empat polisi Malaysia menyerang Donald Luther Colopita, wasit karate kita.

 

Masuk akal jika Mantan Menlu RI, Ali Alatas, mengemukakan, perlakuan buruk terhadap para TKI di Malaysia berpotensi menjadi titik api yang bisa merusak hubungan Malaysia-Indonesia. Dengan kata lain, persahabatan dengan Malaysia yang selama ini kita pandang sebagai sahabat serumpun akan rusak.

 

Sikap tidak bersahabat juga ditunjukkan oleh “sahabat” kita, Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi tidak memberikan respons atas permintaan Indonesia soal penjelasan resmi atas kasus penganiaan empat TKI oleh majikannya di Arab Saudi. Padahal pemerintah sudah mengirimkan nota-nota diplomatik kepada pemerintah Arab Saudi.

 

Yang lebih menyakitkan lagi, pernyataan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, bahwa kematian dua TKI negerinya, merupakan takdir. Meskipun demikian, Arab Saudi adalah “sahabat” kita. Kita memandang Arab Saudi sebagai sahabat karena secara religius, Indonesia-Arab Saudi amat dekat. Bahkan sebagian orang memandang orang yang datang dari negeri Arab Saudi merupakan orang-orang “suci” dan sangat disanjung-sanjung.

 

Dari berbagai perlakuan negara “sahabat” tersebut, kita melihat bahwa persahabatan yang kita tanam dan pupuk selama ini dengan Malaysia dan Arab Saudi masih merupakan persahabatan sepihak. Hanya Indonesia saja yang memandang Malaysia dan Arab Saudi sebagai sahabat. Malaysia dan Arab Saudi belum melihat kita sahabat dalam arti sejatinya. Malaysia dan Arab Saudi memandang kita tidak lebih dari penghasil TKI ke negeri mereka. Inilah persahabatan Indonesia-Malaysia dan Indonsia-Arab Saudi. Itulah persahabatan yang timpang dan cacat.

 

Untuk itu, warga bangsa ini seyogiyanya melihat sikap dan perilaku negara sahabat sebagai tantangan untuk memajukan dirinya, mengubah imej negeri ini sebagai penghasil TKI menjadi penghasil kwalitas sumber daya manusia (SDM) yang bisa diandalkan dalam bidang pengetahuan, ekonomi dan tekhnologi. Sebab kita baru dipandang sebagai sahabat bila kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki seperti Malaysia dan Arab Saudi.

 

Menjadi tugas pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan kwalitas warga bangsa ini melalui peningkatan anggaran pendidikan nasional. Sudah saatnya, pemerintah memprioritaskan pendidikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat meningkatkan daya saing SDM kita di dunia internasional. Dengan demikian, persahabatan kita dengan negara manapun juga tidak akan menjadi timpang, unfair, cacat dan tidak manusiawi, melainkan sejajar, adil dan elegan.

 

Hingga sekarang, Indonesia belum dipandang sebagai negara sahabat oleh negara tetangga (seperti Malaysia dan Arab Saudi, dll) dalam arti sejatinya. Indonesia masih dikenal atau dipandang sebagai negara yang rendah, tidak maju, negara teroris, pengekspor tenaga kerja (pembantu rumah tangga dan pekerja kasar). Lalu siapakah yang menjadi sahabat bagi Indonesia? Kita semua sudah bisa menilainya sendiri.

 

* Penulis adalah alumnus STFT Widya Sasana malang, tinggal di Jakarta.