Suster Apung Merasa Ditipu Soetrisno Bachir


Suster Apung Merasa Ditipu Soetrisno Bachir -detikNews

Jakarta – Hj Rabiah yang dikenal sebagai Suster Apung merasa tertipu dan
dibodohi oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir (SB).
Ia tidak tahu kalau film yang dibintanginya akan dijadikan iklan politik.

“Saya bekerja sebagai suster untuk mengabdi pada masyarakat, bukan untuk
jadi jualan politik Pak Tris (panggilan Rabiah untuk SB),” tutur Rabiah di
warung kopi Daeng Annas di Jalan RS Faisal Makassar, Jumat (15/8/2008) .

Rabiah menjadi salah satu bintang dalam iklan layanan masyarakat seri
dirgahayu Indonesia dengan tokoh utama SB. Ikut main dalam iklan itu
beberapa warga pulau Liukang Tangngayya, Kabupaten Pangkajenne Kepulauan
(Pangkep), tempat Suster Apung mengabdi sebagai tenaga perawat kesehatan
sejak tahun 1977.

Rabiah menceritakan, pada 12 Juli lalu ia diajak oleh orang-orang 25Frame
untuk membintangi kompilasi film dokumenter di Bali. Selama 3 hari di Bali,
ia sama sekali tidak sadar kalau orang yang dipanggil Pak Tris adalah
Soetrisno Bachir, sponsor pembuatan film pendek dirinya.

Ia juga tidak pernah diberitahu bahwa kelak film tersebut akan dijadikan
iklan politik di televisi. Rabiah mengakui ia memang pernah menandatangani
surat pernyataan dan menerima Rp 4 juta dari pihak 25Frame. Namun ia tidak
pernah melihat ada nama Soetrisno Bachir dalam surat pernyataan tersebut.

Rabiah baru tahu kalau film yang dibintanginya dijadikan iklan politik
setelah diberitahu Arfan Sabran. Pria ini merupakan sutradara film
dokumenter “Suster Apung’ yang memenangkan kompetisi film dokumenter Eagle
Award yang diselenggarakan Metro TV. Lewat film inilah Rabiah kemudian lebih
dikenal sebagai Suster Apung.

Arfan Sabran yang menemani Rabiah mengungkapkan kekecewaaanya pada SB,
mulanya diberitahu oleh teman-temannya di Jakarta dan Yogyakarta. Ia di-sms
dengan kalimat “Selamat, Suster Apung Sudah Dipolitisasi” . Ia pun buru-buru
menonton iklan politik tersebut di televisi.

Setelah menonton, ia terhenyak dan langsung menghubungi Rabiah. Ternyata
Rabiah pun tidak tahu kalau peran yang ia mainkan menjadi jualan politik
partai yang memiliki banyak caleg dari kalangan artis.

Meski kenyataannya demikian, baik Rabiah maupun Arfan belum mau meminta
iklan politik tersebut ditarik dari peredaran. “Kami hanya meminta pada Pak
Tris agar tidak seenaknya memanfaatkan rakyat jelata seperti Suster Apung
menjadi komoditas politik partainya,” tegas Arfan

Anak-Anak Katolik Dan Muslim Merayakan Bersama Hari Anak Nasional


12 Agustus 2008 12:39

Anak-Anak Katolik Dan Muslim Merayakan Bersama Hari Anak Nasional

UCAN 7/8/2008

hari anak

Jakarta (UCAN) — Sebanyak 20 anak Katolik dari sebuah paroki di Jakarta mengunjungi sebuah sekolah gratis bagi anak-anak miskin beragama Islam untuk merayakan Hari Anak Nasional.
Anak-anak berumur 5-12 tahun yang berasal dari Lingkungan St. Hubertus, Paroki St. Monica di Tangerang, sebelah barat Jakarta, itu memanfaatkan hari Sabtu, 26 Juli, dengan mengunjungi sekolah gratis di Muara Angke, sebuah daerah kumuh di Jakarta Utara. Pastor Ignatius Swasono SJ, direktur Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta, dan Lorensia Sri Kusnidyah Juniari memimpin kelompok tersebut.
Biro Pelayanan Kesejahteraan Anak (BPKA) dari LDD Keuskupan Agung Jakarta mengelola sekolah gratis itu sejak Januari 2004. Bangunan sekolah yang lama, sekitar 50 meter dari tempat itu, terbakar tahun 2007, dan bangunan yang baru berukuran 25 meter persegi dibangun di atas tanah milik Mesjid Nurul Ikhlas.
Sekolah itu memiliki 150 murid yang dibagi ke dalam beberapa kelompok: pra-sekolah, taman kanak-kanak (umur 4-5 tahun), sekolah dasar (umur 6-12 tahun), dan sekolah menengah pertama (umur 13-15 tahun). Sepuluh guru relawan beragama Islam mengajar menggambar, membaca, menyanyi, dan matematika. Kelas pra-sekolah berlangsung setiap Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu; kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar pada Hari Sabtu; dan sekolah menengah pertama pada Hari Minggu.
Setibanya di sekolah itu pukul 09.00, anak-anak Katolik yang didampingi orangtua mereka disambut oleh sekitar 50 anak Muslim berumur 3-5 tahun serta tiga guru mereka dan Herman Yosef Marsudi, yang mengetuai BPKA.
Selama kunjungan tiga jam itu, para guru itu memimpin anak-anak Katolik dan Muslim dalam menyanyi dan menari, sementara orangtua mereka menyaksikan lewat jendela. Semua anak duduk di atas lantai untuk pelajaran membaca dan matematika, dengan mengabaikan bau sampah yang menyengat di sekitar lingkungan itu.
Sebelum meninggalkan sekolah itu, anak-anak Katolik membagikan sejumlah paket snack berisi roti, permen dan susu. Juniari, koordinator kunjungan itu, kemudian menyerahkan tiga kardus alat tulis, dua kardus mainan, dan uang senilai 9 juta rupiah kepada Marsudi.
Dalam sambutannya, Juniari menyampaikan terima kasih kepada sekolah itu yang telah menyambut anak-anak Katolik. “Kami cuma membawa bantuan sedikit untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah ini. Yang paling penting, kita telah menjalin kasih persaudaraan, terutama di antara anak-anak kita,” katanya.
Pastor Swasono mengungkapkan terima kasih atas kunjungan itu atas nama anak-anak Muslim yang miskin tersebut. “Inilah suasana belajar anak-anak dampingan kami dengan sarana seadanya, tapi mereka punya semangat untuk belajar.”
Sejumlah pengunjung dan tuan rumah berbicara dengan UCA News.
Jonathan Budiman Djaya, siswa kelas V di Sekolah St. Laurensia di Tangerang, mengatakan bahwa ia senang dengan kunjungan itu. “Saya kasihan anak-anak belajar dan duduk di atas lantai,” kata bocah laki-laki berumur 10 tahun itu, seraya menambahkan bahwa ia baru pertama kali berbaur dan bercengkerama dengan anak-anak miskin.
Juniari menjelaskan: “Kami membawa anak-anak ke tempat ini supaya mereka bisa mengenal dan melihat dari dekat kehidupan anak-anak yang berkekurangan, karena selama ini mereka bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai, dan didukung oleh orangtua yang memiliki sarana serba ada. Dengan cara ini muncul rasa kasih dan peduli mereka terhadap orang kecil.”
Aysiah, seorang guru berusia 55 tahun, mengungkapkan penghargaan: “Kami sangat senang karena mereka mengunjungi kami yang kecil dan membantu, menghormati dan peduli terhadap anak-anak kami. Kami juga berterima kasih kepada Gereja yang telah membantu warga kami di sini yang bekerja sehari-hari sebagai nelayan, pemulung, tukang becak, dan tukang ojek sepeda.”
BPKA memberikan beasiswa kepada semua murid di sekolah gratis itu, yang juga belajar di sekolah reguler. BPKA juga menyediakan pengobatan gratis sebanyak tiga kali dalam setahun bekerja sama dengan Rumah Sakit Unika Atma Jaya dan Wanita Katolik Republik Indonesia, serta program tambahan gizi untuk anak-anak di bawah 13 tahun dan pelayanan posyandu sekali dalam sebulan.
Sekitar 6.000 anak dari seluruh tanah air merayakan Hari Anak Nasional pada 23 Juli di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri kabinet menghadiri acara yang diadakan dengan tema “Saya Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif!” tersebut.

END

(Sumber: Mirifica.net)

Abu Bakar Ba’asyir :Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs


Terkait rencana eksekusi terpidana bom bali
http://www.youtube. com/watch? v=DWN3IwXFlIg
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——
Abu Bakar Ba’asyir :
Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs
Wednesday, 30 July 2008

Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir menilai pemerintah Indonesia sangat dzolim jika jadi mengeksekusi mati para pelaku bom bali I. Hal ini dikarenakan pemerintah memberikan hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan Amrozi Cs. Pemerintah dianggap hanya melihat kasus tersebut secara kasat mata. Padahal menurutnya, pada kasus Bom Bali I semestinya dilihat siapa sebenarnya yang memiliki bom yang meledak pada waktu itu.

“Semua ahli bom baik dalam maupun luar negeri menyatakan bom yang meledak dan sampai membunuh banyak orang itu sebenarnya bukan bom biasa tapi mikronuklir,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan lewat internet di situs youtube.com. Video tersebut tercatat dirilis Sabtu (26/7) oleh seseorang yang menggunakan username rofiq1924.

Abu Bakar Baasyir meragukan bahwa Amrozi Cs dapat membuat bom yang memiliki daya ledak sebesar itu. Seraya mengutip pernyataan ahli bom dari Australia yang mengatakan bahwa kalau ada orang yang percaya bahwa Amrozi bisa membuat bom seperti itu bukan orang bodoh, tetapi idiot.

Ustadz yang pernah ditahan di dalam penjara karena kasus imigrasi ini mengaku pernah berdebat dengan pihak kepolisian. “Kalau polisi percaya Amrozi bisa membuat bom seistimewa seperti itu mestinya bukan ditahan tetapi menjadi penasehat militer, dijadikan dosen di sekolah militer mengajari untuk membuat bom tersebut,” ujarnya.

Abu Bakar Baasyir sepakat jika Amrozi Cs dihukum karena kesalahannya melakukan pengeboman yang mengakibatkan kerusakan dan luka-luka. Namun, ia tetap tidak percaya jika bom milik Amrozi bisa membunuh orang. Abu Bakar Baasyir mencurigai bom yang meledak itu milik CIA.

Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki Solo ini khawatir jika pemerintah Indonesia yang tidak takut Allah tapi takut pada George W. Bush ini nekad mengeksekusi mati Amrozi Cs akan mengakibatkan bala’ (bencana besar) yang ditimpakan oleh Allah SWT.

Menurutnya, Amrozi Cs bukanlah teroris namun justru kontra teroris. Mereka merupakan mujahid yang membela Islam dan kaum musliminin dari teror AS dan kawan-kawannya, hanya saja langkah mereka melakukan pengeboman itu keliru.

“Kalau tetap nekad mengeksekusi, jangan orang Islam yang ditunjuk jadi regu tembak eksekusi,” ujarnya menasehati Kapolri. Ia mengkhawatirkan jika orang Islam yang melakukan eksekusi akan mengakibatkannya murtad karena membunuh seorang pejuang Islam. “Tapi saya anjurkan mundur saja, jangan nekad mengeksekusi. Saya khawatir ada bala’ dari Allah kalau tetap nekad. Saya sudah memperingatkan!” pungkasnya.

[ihsan/www.suara-islam. com]

Belajar dari Kung Fu Panda


KUNG FU PANDA


Po , si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar

Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti- nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you’re special.
Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial.

Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.

Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

2. Teruslah kejar impianmu.
Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway,
kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.


Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah.  Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.
Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.


5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.


Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung
akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja
mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan
ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.


6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.

Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya.
Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.


7. Keluarga sangatlah penting.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu.
Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?

Cerita Menarik: Don’t judge a book by its cover!


Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi.
Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Laki-laki dan perempuan dengan baju lusuh itu yang bernama Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, mereka melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Pesan Moral :
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita menilai orang dari pakaiannya saja, karena pakaian acap menipu.
“Though you cannot go back and make a brand new start, my friend. Anyone can start from now and make a brand new end”
~Dr. John C. Maxwell~

Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya Jenazah Sri Puji Astuti


SIARAN  PERS
Institute for Migrant Workers (IWORK) dan LBH Buruh    Migrant IWORK

                Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya  Jenazah Sri Puji Astuti, Buruh Migran Perempuan Korban Traficking di Arab
Saudi

                            Sudah dua bulan berlalu, kematian Buruh  migrant Perempuan Sri Puji Astuti di Arab Saudi masih menjadi misteri.  Seperti pengaduan pihak keluarga Sri Puji Astuti (38th) asal RT 03 RW 04 Linggapura, Tonjong, Brebes, Jawa Tengah dikabarkan meninggal dunia di  Rumah Sakit King Abdul Azis Jeddah tanggal 8 Mei 2008 lalu. Sri Puji  Astuti sebulan sebelumnya pernah memberi kabar kepada pihak keluarga bahwa  ia dalam pelarian dari rumah majikannya karena tak tahan disiksa. Dan  sempat ditangkap oleh Polisi Arab Saudi sebelum diserahkan ke sebuah  penampungan milik orang Indonesia . Almarhumah juga sempat menceritakan  bahwa di penampungan tersebut terdapat ratusan orang yang nasibnya  serupa dengan dia. Sebelum di meninggal almarhumah mengeluhkan sakit di  bagian uluhati akibat tendangan dan pukulan dari majikannya. Dipenampungan  tersebut BMI mayoritas mereka adalah pelarian yang ditampung, dan  selama dipenampungan dikenakan biaya perhari sebagai ganti uang makan dan  tempat tidur. Dalam proses upaya permohonan pemulangan jenazah dan  pemenuhan hak-hak Sri Puji Astuti oleh pihak keluarga, pihak perwakilan RI di  Jeddah ternyata bersikap sangat lamban. Dari Laporan yang dikirimkan  LBH Buruh Migran IWORK pada tanggal 9 Mei 2008 dan beberapa kali kontak  lewat telphone, baru pada tanggal 7 Juli 2008 balasan dikirim dan  menyatakan bahwa Jenazah Sri Puji Astuti tidak ada di RS King Abdul Azis,
dan sampai hari ini tidak diketahui ada dimana dan pihak mana yang secara  sepihak memakamkan jenazah tersebut. Informasi ini sedikit berbeda  dengan informasi yang di dapatkan keluarga, pada sekitar tanggal 17 Juni  2008 keluarga mendapat telephone dari salah seorang teman Almarhumah Sri  Puji Astuti yang menanyakan apakan pihak keluarga masih mengurus  kepulangan Jenazah karena sudah terlalu lama di Rumah Sakit, dan pihak  keluarga menjawab masih dalam proses pengurusan.

                            Kematian Sri Puji Astuti menambah panjang  deretan kasus kematian BMI di luar Negeri. Antara January-Juni 2008 ini  Institute for Migrant Workers (IWORK) mencatat telah 57 BMI meninggal
dunia. Ini menunjukkan bobroknya sistem penempatan dan perlindungan BMI . BMI yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan mendapat  penyiksaan terpaksa harus melarikan. Akibat minimnya informasi dan perlindungan  yang diterima oleh BMI , mereka tak tau harus berlindung kemana.
Setelah mereka berhasil keluar dari sarang Harimau,  banyak dari mereka yang  terperangkap ke mulut buaya, di tampung oleh agency untuk dijual  kembali ke majikan baru dengan resiko yang sama atau di tampung oleh  penampungan-penampungan illegal yang terindikasi melakukan tindak pidana
Trafficking, seperti pada kasus Sri Puji Astuti . Lemahnya pemantauan  keberadaan BMI di Luar negeri oleh KBRI di Negara-negara tempat bekerja  menyebabkan lemahnya perlindungan BMI ketika mereka bekerja. Padahal didalam  undang-undang 37 Tahun 1999 pada pasal 18 – 21 dinyatakan tugas dari  Perwakilan RI diluarnegeri yang antara lain melindungi dan membantu  apabila WNI di Luar negeri menghadapi masalah hokum dan yang  membahayakannya bahkan wajib memulangkan atas biaya Negara. Undang-undang 39 tahun  2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada pasal  78 juga menyebutkan tugas perwakilan RI di luar negeri untuk melindungi  BMI pada saat mereka bekerja.

                            Untuk itu Institute for Migrant Workers dan  Lembaga Bantuan Hukum Buruh Migran sebagai kuasa Hukum dari Keluarga  Almarhumah Sri Puji Astuti menuntut :

1.. Segera Usut keberadaan Jenazah Sri Puji Astuti,  Kemudian segera Pulangkan
2.. Berikan Hak-haknya sebagai Buruh Migran ; Gaji,  Santunan dan Asuransi

 3.. Pemerintah harus meminta pihak kepolisian Arab  Saudi mengusut Tuntas sebab  kematian Almarhumah Sri Puji Astuti

4.. Berantas penampungan-penampungan illegal sarang  kejahatan Trafficking dan Perbudakan
5.. Pemerintah harus mengevaluasi dan menghentikan  Pengiriman BMI ke Negara-negara pelanggar HAM Migran.
6.. Berikan Perlindungan yang menyeluruh kepada Buruh Migran

                STOP PELANGGARAN HAM BURUH MIGRAN !

                Jakarta , 15 Juli 2008

                Yuni Asriyanti , S.H.I (0817256872)               
Yudho Sukmo Nugroho, S.H (0818189964)

                Direktur IWORK LU Jakarta                             
         Direktur LBH Buruh Migran

FILSAFAT BUAH


Filsafat Buah

 


1. Jadilah Jagung, jangan Jambu Monyet. Jagung membungkus bijinya yang
banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma
satu-satunya.
Artinya : Jangan suka pamer.

 


2. Jadilah pohon Pisang. Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu
mati.
Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

 

3. Jadilah Duren, jangan kedondong. Walaupun luarnya penuh kulit yang
tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. Beda dengan kedondong, luarnya
mulus, tapi rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.
Artinya : Don’t Judge a Book by The Cover… jangan menilai orang dari
Luarnya saja.

 


4. Jadilah Bengkoang. Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi isi
umbinya putih bersih.
Artinya : Jagalah hati, jangan kamu nodai.

 

5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan. Tandan pete membagi
makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang. Tidak seperti rambutan,
ada yang kecil, ada yang
gede.
Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

 


6. Jadilah Cabe. Makin tua makin pedas.
Artinya : Makin tua makin bijaksana.

 

7. Jadilah buah Manggis. Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.
Artinya : Jangan Munafik.

 


8. Jadilah buah Nangka. Selain buahnya, nangka memberi getah kepada
penjual atau yang memakannya.
Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yang baik).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.