Agama Sumber Damai


Agama-agama bukanlah sumber kekerasan, melainkan justru mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Dengan pemahaman demikian, dari agama semestinya dapat dibangun masyarakat yang damai dan menghargai semua kelompok yang berbeda-beda.

Harapan itu dikemukakan Karen Armstrong, penulis buku Twelve Steps to a Compassionate Life, asal Inggris dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (13/6). Hadir Presiden Direktur Mizan Group Haidar Bagir. Karen mengunjungi Jakarta untuk beberapa ceramah sekaligus mendorong deklarasi Charter of Compassion atau Piagam Welas Asih di Indonesia.

Karen mengaku telah mempelajari banyak agama, seperti Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan Konghucu. Dia juga menulis buku tentang sejarah Tuhan, perang atas nama Tuhan, agama, dan Nabi Muhammad. Semua itu mendorongnya menemukan kaidah emas yang penting untuk membangun kehidupan penuh cinta kasih.

Salah satu kaidah itu adalah pentingnya menyelisik ke dalam hati untuk menemukan apa yang membuat kita tersakiti dan menolak menimbulkan rasa sakit itu kepada orang lain. Semua orang pernah menderita dan kita perlu memahami penderitaan itu.

”Kita perlu mendorong penerapan kaidah emas penuh cinta kasih itu di dunia nyata. Itu diperlukan untuk membangun komunitas global di mana semua kelompok dengan ideologinya dapat hidup saling menghormati,” katanya.

12 langkah

Karen menjabarkan 12 langkah membangun kehidupan penuh welas asih. Hal itu mencakup belajar tentang cinta kasih, melihat diri sendiri, belas kasih kepada orang lain, empati, perhatian, tindakan, pengakuan sedikitnya yang kita ketahui, berbicara yang baik, peduli, pengetahuan, pengakuan, dan mencintai musuh. Prinsip itu diharapkan bisa dilaksanakan di berbagai komunitas dan profesi, seperti bisnis, kedokteran, masyarakat kota, pendidikan, atau keagamaan.

Karen menolak pandangan agama merupakan sumber kekerasan. Agama justru memberikan makna hidup dan memperkenalkan seni dan keindahan bagi umat manusia. Jika dipahami secara benar, agama bisa mendorong kehidupan yang harmonis.

Haidar Bagir menjelaskan, dalam peringatan ulang tahun ke-30, Mizan meluncurkan Gerakan Islam Cinta. Dengan didukung tokoh-tokoh Muslim, gerakan ini berusaha mengampanyekan wajah Islam yang berorientasi cinta kasih. Hal itu sekaligus memperkuat konsolidasi kalangan Islam moderat yang menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama.

Selama ini, orientasi cinta kasih dalam Islam tenggelam akibat berbagai masalah sosial-politik. ”Ini langkah penting untuk mengajak semua manusia kembali pada cinta kasih. Kehadiran agama semestinya mendorong perdamaian, jangan jadi sumber kekerasan dan penindasan,” katanya.

(Kompas cetak, 14 Juni 2013)

Mengubah Paradigma Pendidikan Agama


AM M Agus Nuryatno

Pluralisme adalah sebuah fakta sejarah. Tidak dapat dimungkiri dan diingkari oleh siapa pun.Kemajemukan adalah kehendak Tuhan agar manusia saling menyapa, mengenal, berkomunikasi, dan bersolidaritas. Pada zaman kontemporer saat ini sulit dicari satu negara dengan agama yang homogen. Umumnya heterogen dengan tingkat yang berbeda-beda.

Kemajemukan pada tingkat agama ini masih ditambah lagi kemajemukan pada wilayah tafsir agama. Tidak mengherankan jika banyak mazhab, sekte, atau aliran dalam agama apa pun. Semua ini akibat perbedaan kapasitas dan kemampuan berpikir masing-masing orang, perspektif, ataupun pendekatan.

Pertanyaannya: model pendidikan agama macam apa agar melahirkan pribadi-pribadi yang toleran, inklusif, humanis, dan meneguhkan spirit pluralisme dan multikulturalisme? Pendidikan agama yang diidealkan adalah pendidikan agama yang tidak doktriner sehingga tak memunculkan klaim-klaim kemutlakan. Ketika ruang perbedaan dan perubahan dalam agama telah dimatikan oleh sikap fanatik dan eksklusif, agama jadi antirealitas. Namun, justru sikap-sikap fanatik dan eksklusif ini dilahirkan oleh pendidikan agama.Tak mengherankan jika pendidikan agama dikritik antirealitas. Pendidikan agama dianggap kurang mengakomodasi realitas keberagamaan intra dan antarumat beragama, serta justru cenderung melahirkan eksklusifisme keberagamaan.

Model pendidikan agama

Untuk menjawab model pendidikan agama seperti apa yang memungkinkan melahirkan pribadi yang toleran, penting untuk mempertimbangkan model-model pendidikan agama yang dikembangkan Jack Seymour (1997) dan Tabita Kartika Christiani (2009). Mereka menjelaskan model-model pendidikan dan pengajaran agama, yaitu in, at, dan beyond the wall.

Pendidikan agama in the wall berarti hanya mengajarkan agama sesuai agama tersebut tanpa dialog dengan agama lain. Model pendidikan agama seperti ini berdampak terhadap minimnya wawasan peserta didik terhadap agama lain, yang membuka peluang terjadinya kesalahpahaman dan prejudice. Model pendidikan agama in the wall juga dapat menumbuhkan superioritas satu agama atas agama yang lain sehingga mempertegas garis demarkasi antara ”aku” dan ”kamu”, ”kita” dan ”mereka”.

Sikap toleransi, simpati, dan empati terhadap mereka yang beda agama sulit ditumbuh-kembangkan dari model pendidikan agama seperti ini. Model pendidikan semacam ini memosisikan agama lain atau penganut agama lain sebagai the others, ”yang lain”, yang akan masuk neraka karena dianggap kafir. Inilah bentuk truth claim yang berdampak pada monopoli Tuhan dan kebenaran. Seakan-akan kebenaran dan Tuhan hanya milik individu atau kelompok agama tertentu.

Model keberagamaan seperti ini pada gilirannya berkontribusi dalam menanamkan benih-benih eksklusivisme keberagamaan yang berpotensi memicu konflik dan kekerasan atas nama agama. Ironisnya, model pendidikan agama in the wall inilah yang kini mendominasi pendidikan agama di Tanah Air.

Paradigma pendidikan agama at the wall tidak hanya mengajarkan agama sendiri, tetapi sudah mendiskusikannya dengan agama yang lain. Tahap ini merupakan tahap transformasi keyakinan dengan belajar mengapresiasi orang lain yang berbeda agama dan terlibat dalam dialog antaragama.

Sementara pendidikan agama beyond the wall tak sekadar berorientasi untuk berdiskusi dan berdialog dengan orang yang berbeda agama. Namun, lebih dari itu mengajak peserta didik dari beragam agama untuk bekerja sama mengampayekan perdamaian, keadilan, harmoni, dan pelibatan mereka dalam kerja-kerja kemanusiaan. Semua itu untuk menunjukkan, musuh agama bukan pemeluk agama yang berbeda, melainkan kemiskinan, kebodohan, kapitalisme, kekerasan, radikalisme, ketidakjujuran, korupsi, manipulasi, kerusakan lingkungan, dan seterusnya.

Model pendidikan agama seperti ini juga untuk menunjukkan semua agama mengajarkan kebaikan, dan bahwa agama adalah untuk kebaikan manusia sesuai misi profetiknya. Maka, pendidikan agama yang saat ini cenderung eksklusif karena hanya mengajarkan agama sendiri (in the wall) perlu digeser ke arah inklusif dengan model at dan beyond the wall. Peserta didik tidak hanya kenal agama sendiri, tetapi juga bersentuhan dengan agama lain untuk melintasi tradisi lain dan kemudian kembali kepada tradisi sendiri.

Maka, pertanyaan selanjutnya: mungkinkah guru-guru agama kita mau dan sukarela mengajak peserta didik bekerja sama dengan siswa lain yang berbeda agama memerangi musuh utama agama, yaitu penindasan, kekerasan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan kerusakan lingkungan? Mari kita belajar bersama.

M Agus Nuryatno Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

(Kompas, 13 Januari 2012)

Minta Disempurnakan, KWI Tolak RUU KUB


KONFERENSI Wali Gereja Indonesia (KWI), menyatakan penolakanya atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang tengah dibahas oleh DPR RI saat ini. Menurut Sekretaris Eksekutif Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Benny Susetyo, penolakan itu didasari oleh penilaian, draf RUU KUB belum sejalan dengan dengan makna kerukunan umat beragama itu sendiri.

“KWI minta draf ditarik dan perlu disempurnakan. Karena naskah akademis draf mengatakan latar belakang persoalan agama adalah kekerasan. Seharusnya kekerasan itu diselesaikan dengan hukum bukan dengan UU Kerukunan. Jadi judulnya UU Kerukunan itu sudah salah karena naskah akamedisnya sangat kontradiktif,” ujar Romo Benny usai mengikuti Workshop Menyikapi Kehendak Masyarakat Tentang RUU KUB yang digelar oleh Kementerian Agama dan dihadiri sejumlah tokoh agama dan akademisi di Jakarta, Rabu (21/12) malam.

Benny juga menilai, naskah draf RUU KUB ini hanya menjiplak dari sejumlah peraturan beragama yang telah ada sebelumnya, seperti Surat Keputusan Bersama Dua Menteri dan Peraturan Bersama Menteri. “Jadi penyusun draf RUU ini tidak paham. Sejumlah poin juga belum sesuai seperti mengenai pemakaman dan pendidikan agama. Pendidikan agama sebelumnya sudah ada di UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sehingga kami minta ditarik,” katanya.

Ia melanjutkan, pihaknya juga menemukan, yaitu menyangkut, diskriminasi dan kerancuan yang akan menimbulkan persoalan mayoritas-minoritas. Untuk itu, KWI sendiri ungkap Benny, telah mempunyai rumusan terkait RUU KUB tersebut.

Pasalnya tegas Benny lagi, nama RUU KUB juga tidak tepat. Hal utama yang seharusnya diatur dalam RUU KUB, menyangkut kewajiban negara menjamin setiap warga negara untuk mengekspresikan kebebasan beragamanya. “Kami sudah punya rumusan sendiri. Karena RUU saat ini menyalahi empat pilar itu sendiri yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,” katanya.
(www.jurnas.com)

Tidak Boleh Saling Melukai


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, keharmonisan hidup ber- agama yang tercapai selama ini tidak terjadi begitu saja, tetapi berkat kerja keras. Presiden menegaskan pentingnya menahan diri untuk tidak saling melukai satu sama lain.”

Saat menerima panitia hari raya Nyepi, Presiden menyampaikan, dalam masyarakat majemuk yang meliputi beragam agama, tentu keharmonisan yang kita capai tidak diperoleh begitu saja, tetapi berkat upaya kita, tekad kita,” kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, Rabu (16/3) di Kantor Presiden, dalam jumpa pers setelah mendampingi Presiden menerima Panitia Dharma Santi Nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1933. Ketua Panitia Erlangga Mantik, Sekretaris Umum Panitia Wayan Koster, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik ikut dalam pertemuan itu.

Erlangga mengatakan, dalam pertemuan, Presiden mengungkapkan kesediaannya untuk hadir dalam perayaan Dharma Santi pada 21 Maret 2011 di Jakarta. Dharma Santi merupakan acara penutup dari rangkaian perayaan hari raya Nyepi. Tahun ini, hari raya Nyepi jatuh pada 5 Maret. ”Bapak Presiden juga mendorong agar umat Hindu tetap memberi teladan hidup beragama dalam kemajemukan,” tutur Erlangga.

Secara terpisah, terkait razia jemaah Ahmadiyah yang dilakukan aparat Kodam Siliwangi, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, posisi TNI netral dan memperlakukan sama setiap anggota masyarakat di depan hukum. Tugas sosialisasi surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri adalah tugas aparat pemerintah daerah, TNI hanya mendampingi.

”Untuk sosialisasi SKB tiga menteri, TNI ikut mengawasi saja. Yang bekerja sosialisasi aparat pemerintah daerah. Kami mendampingi agar tidak ada tindakan anarkis dari kelompok-kelompok tertentu,” katanya. ”Tidak ada operasi sajadah,” kata Agus Suhartono tegas.

Kehadiran TNI, sesuai pernyataan Pangdam Siliwangi Mayjen Moeldoko, bukan untuk mengintimidasi. ”Kehadiran TNI agar tidak terjadi tindak kekerasan,” kata Agus Suhartono.

Dalam seminar ”Islam Indonesia dan Islam Timur Tengah”, sehari sebelumnya, pengajar FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ali Munhanif, mengatakan, sikap lemah pemerintah terhadap kekerasan telah menciptakan inkubator bagi gerakan ekstrem antisistem demokrasi. ”Mereka menanti momen- tum untuk mengambil alih kekuasaan dan mengubah negara. Jaringan ekstrem ini mengembangkan semangat eksklusif dan mengembangkan tribalisme yang mengedepankan identitas kelompok,” kata Ali.

Dia menjelaskan, negara demokrasi semestinya mengayomi seluruh warga negara. Kondisi pemerintahan yang lemah dan tidak berani bersikap tegas terhadap tindakan kekerasan telah dimanfaatkan kelompok yang ingin melakukan penyeragaman terhadap seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Direktur Program Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra, yang turut berbicara, mengingatkan, kekayaan Islam di Nusantara mampu mencampurkan budaya dalam ritual. Produk budaya India yang berasal dari periode pra-Islam seperti wayang, ujar Azyumardi, dapat dimanfaatkan sebagai media penyiaran agama Islam dengan efektif. Sejarah membuktikan, masyarakat Islam Indonesia pada umumnya toleran dan memelihara kebudayaan mereka. (Kompas, 17 Februari 2011)

10.000 Orang Akan Hadiri Pekan Kerukunan Umat Beragama Sedunia


Jakarta – Gelaran rutin World Interfaith Harmony Week (Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia) tahun ini akan digelar di Jakarta. Acara yang dimulai pada 6 Februari 2011 itu bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya hubungan yang harmonis antara umat beragama.

 

“Acara ini merupakan program PBB yang dimaksudkan untuk mengakhiri perjalanan panjang pertikaian agama dan kekerasan sehingga umat beragama dapat hidup layak dan damai tanpa perang maupun kekerasan,” kata salah satu anggota presidium Din Syamsuddin di kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilitazations (CDCC), Jl Kemiri 24, Jakarta, Senin (31/1/2011).

 

Acara yang diselenggarakan di Istora Senayan ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan pada pekan pertama bulan Februari. Kegiatannya antara lain penyampaian pesan kerukunan dari tokoh agama, dari Sekjen Religions For Peace New York, Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI.

 

“Kita patut merayakan acara seperti ini karena ada makna simbolik, harmony yang akan terbangun di tengah masih adanya ketegangan antar agama di Indonesia,” jelasnya.

 

Ketua Umum PGI Andreas Yewangoe mengatakan persoalan kerukunan agama di Indonesia sedang disorot dunia. Pada akhir-akhir ini ketegangan antar umat beragama cenderung semakin meningkat.

 

“Semua agama mengajarkan cinta kasih. Sehingga acara ini diharapkan dapat meredam ketegangan tersebut,” ungkapnya.

 

Sementara itu Ketua Umum KWI Mgr Martinus Situmorang mengatakan Indonesia bersyukur dapat menyelenggarakan acara ini. Acara ini sebagai bentuk simbolis dari kondisi realitas yang ada.

 

“Damai adalah aset dari bangsa kita. Acara ini untuk menegaskan dan menghindari konflik yang intoleransi,” paparnya.

 

Hadir dalam dalam jumpa pers ini Ketua Umum KWI Mgr Martinus Situmorang, Ketua Parisadha Hindu I Nyoman S Udayana, Presidium IRC-Indonesia Din Syamsuddin, Ketua Umum PGI Andreas Yewangoe, Ketua Panitia Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia Romo Benny Susetyo, Ketua Walubi Rusli Tan, Uung Sendana (Matakin).

 

 

sumber : detiknews

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.