Megawati: Pancasila adalah Roh Bangsa

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyatakan, Pancasila menjadi dasar negara sekaligus filosofi kehidupan berbangsa bukan simbol mati, melainkan adalah ”roh” bangsa untuk membawa Indonesia sejahtera.

Megawati menyatakan hal itu dalam perayaan Natal Nasional di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (29/12) malam.

Menurut Mega, keberagaman Indonesia yang memiliki ratusan suku bangsa, etnis, bahasa, serta agama menjadi rahmat disyukuri. Perbedaan adalah kekayaan, bukan menjadi sumber konflik dalam kemajemukan bangsa ini.

Perayaan Natal di Manado ini dihadiri Ketua DPD PDI-P Sulut Olly Dondokambet, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Sarundajang, Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo, Wakil Sekjen PDI-P Baskara, serta 3.000 simpatisan PDI-P. Natal diramaikan sejumlah paduan suara, yaitu Benedicto, Universitas Negeri Manado, dan Pria Kaum Bapa GMIM, serta refleksi dalam bentuk teater dimainkan Pemuda Gereja GMIM Imanuel Wanea.

Megawati mengatakan, kemajemukan negara ini sudah sejak lama sehingga harus dipertahankan. Menurut Megawati, empat pilar bangsa, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI, yang menjamin kehidupan kemajemukan wajib dipertahankan oleh segenap rakyat Indonesia. Tanpa empat pilar itu negara ini akan hancur dan orang tidak mengenal Indonesia.

Ia mengatakan, kemajemukan adalah penghargaan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa. Megawati kemudian menceritakan pengalaman hidupnya yang mesti hadir pada ritual keluarga dalam agama berbeda. ”Apakah saya harus menyangkal darah yang mengalir dalam tubuh ini hanya karena agama saya anut berbeda dengan leluhur saya?” katanya.

Megawati mengingatkan, Pancasila menjadi dasar negara sekaligus filosofi kehidupan berbangsa bukan simbol mati, melainkan adalah ”roh” bangsa untuk membawa Indonesia sejahtera.

”Pancasila jangan jadi simbol, tetapi harus membumi dan diterapkan dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali apakah dia pemimpin dan rakyat jelata,” katanya.

Untuk mencapai kemajuan, ujarnya, perlu pengorbanan yang besar dan itu sudah dilakukan pendiri bangsa ini yang harus melewati siksaan di penjara berkali-kali. ”Seperti Yesus yang berjalan terseok-seok menuju Bukit Golgota untuk kehidupan umatnya. Apakah belum cukup pengorbanan ini?” katanya. (ZAL)
(Kompas, 30 Des 2010)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: