Menciptakan Generasi Pembaca, Mungkinkah?

Menciptakan Generasi Pembaca, Mungkinkah?

Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia diberkahi dengan sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah. Tidak seperti sumber daya alam, SDM adalah kekayaan negara yang terbarukan sehingga potensinya dapat dan harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Potensi tak berbatas itulah yang kemudian menjadi fokus pengembangan SDM Indonesia yang diupayakan melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Salah satu lokomotif utama yang menggerakkan gerbong-gerbong peradaban dan kemajuan masyarakat adalah membaca. Mampu membaca dan ingin membaca adalah dua hal yang berbeda. Dengan tingkat buta huruf yang relatif rendah (18%, BPS, 2007), berarti 8 dari 10 orang Indonesia melek huruf namun timbul pertanyaan: berapa dari mereka yang ingin atau suka membaca?

Keinginan membaca

Keinginan membaca menjadi aspek terpenting dalam menciptakan generasi pembaca karena keinginan membaca membuat seseorang berbeda dengan mereka yang hanya mampu membaca. Budaya membaca hanya bisa lahir dari masyarakat yang memiliki keinginan membaca. Menumbuhkan keinginan memerlukan waktu, upaya, dan juga komitmen. Kita punya waktu dan kita juga sudah berupaya, tetapi kita belum memiliki komitmen bersama untuk menciptakan keinginan membaca di masyarakat kita.

Puluhan juta anak Indonesia telah tumbuh menjadi anak yang tidak suka membaca hanya karena kita tidak berniat menciptakan generasi pembaca. Kemampuan membaca lebih diperhatikan daripada menumbuhkan keinginan membaca pada anak-anak. Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa membaca adalah suatu kegiatan-–bukan suatu kesenangan. Bangsa Indonesia yang kaya dengan khazanah literasi etnik haruslah memacu kita membulatkan tekad untuk menciptakan generasi pembaca.

Faktor pembeda

Sebagai anak yang lahir dari keluarga amat sederhana dan di dusun yang jauh dari pusat kota, saya dan jutaan anak lain di Indonesia berbagi pengalaman masa kecil yang hampir sama: minim fasilitas pendidikan dan kurang informasi. Akibat dari dua hal ini biasanya menyulut pesimisme yang berbuntut pada mandeknya kreativitas dan pupusnya impian.

Saya menganggap diri saya beruntung karena memiliki orang tua yang getol membaca. Pemandangan dari kegiatan membaca mereka membuat keinginan membaca dalam diri saya tumbuh dan menjadi ‘faktor pembeda’ dengan anak-anak lain di dusun saya. Dengan kebiasaan membaca, saya memiliki impian, saya memiliki harapan, dan yang lebih penting lagi: saya memiliki kesempatan.

Membacakan buku pada anak

Bagaimana hal sederhana seperti melihat orang tua membaca bisa menumbuhkan kebiasaan membaca pada si anak? Dalam banyak kesempatan berbincang dengan para kutu buku, saya mendapati fakta bahwa mereka sering membacakan buku pada anak mereka. Hal itu mereka lakukan karena si anak menunjukkan minat mereka pada buku walaupun awalnya hanya karena meniru ayah ibu mereka.

Menurut Jim Trelease, penulis buku The Read Aloud Handbook (Penguin Book, 2001) berbagai riset telah membuktikan membacakan kepada anak adalah faktor tunggal terpenting dalam menciptakan pembaca. Pembaca lahir dari lingkungan keluarga yang suka membaca. Orang tua yang membacakan buku pada anaknya sewaktu kecil akan membesarkan seorang pembaca yang selalu ingin membaca.

Semakin dini, semakin baikkah?

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa semakin dini anak bisa membaca semakin baik. Mereka berlomba-lomba mengajarkan anak membaca di usia TK (2-5 tahun) dan yang memperparah keadaan adalah bahwa salah satu tes masuk sekolah dasar (SD) adalah membaca. Saya tidak tahu siapa yang memulai tren ini, tapi saya yakin bahwa membaca bukan masalah kapan anak mulai membaca, melainkan bagaimana anak berkeinginan untuk membaca. Sooner is not better.

Sebagai ilustrasi, Finlandia sebagai negara dengan pembaca terbaik di dunia mulai mengajarkan membaca secara formal kepada anak-anak di usia tujuh tahun. Ini karena di saat anak ingin diajarkan membaca, dia sudah punya minat untuk bisa membaca dan minat ini jarang sekali ada di anak usia balita. Tentunya sukses di Finlandia ini juga ditunjang ketersediaan bacaan yang layak dan terjangkau.

Schooltime vs lifetime reader

Tujuan sekolah seharusnya menciptakan pembaca sepanjang hidup (lifetime reader)-–lulusan yang terus membaca dan menambah ilmu mereka sendiri sepanjang hidupnya. Namun kenyataannya, sekolah hanya menjadikan anak didiknya pembaca masa sekolah (schooltime reader) yang hanya membaca sewaktu di sekolah, sewaktu mengerjakan tugas, dan-–lebih buruk lagi–sewaktu disuruh gurunya. Pembaca model ini hanya membaca karena harus, bukan karena mau. Keadaan itu juga terjadi karena ‘kontribusi’ dari kebanyakan orang tua yang menyerahkan kegiatan membaca kepada guru di sekolah.

Konsorsium bersama

Menciptakan masyarakat yang gemar membaca adalah konsorsium kita bersama. Keluarga sebagai lingkungan terkecil harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Jadikan satu ruangan di dalam rumah kita sebagai tempat membaca yang nyaman (reading sanctuary). Jadikan membaca sebagai salah satu relaksasi keluarga. Pemerintah pusat harus memberikan perhatian lebih di antaranya dengan merevisi peraturan-peraturan yang menghambat lajunya perkembangan perpustakaan sebagai universitas rakyat. Peraturan Pemerintah No 90 dalam hal penyediaan buku bagi perpustakaan harus dikaji ulang. Di samping faktor lokasi dan kenyamanan, faktor keaktualan buku menjadi daya tarik masyarakat untuk mendatangi perpustakaan. DPR juga hendaknya menghasilkan lebih banyak lagi legislasi yang mendorong tumbuhnya minat baca di masyarakat.

Oleh Tantowi Yahya, Duta Baca Indonesia

http://mediaindones ia.com/index. php?ar_id= NDk3OTc=

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: