Kaum muslim mengundang umat beragama lain untuk buka puasa |
Singapura (UCAN) – Setiap hari selama bulan Ramadan, Ameerali Abdeali bangun sebelum matahari terbit untuk bersama para anggota keluarga menikmati makan kecil sebelum menunaikan doa pagi mereka.
Dalam tradisi seperti yang dijalankan kaum Muslim di seluruh dunia, dia tidak makan lagi ataupun minum, sampai hari itu berakhir. Pada petang, saat matahari terbenam, Abdeali biasanya berbuka puasa dengan makan bersama sebelum doa sore, bersama para anggota keluarganya atau bersama sesama Muslim di sebuah mesjid. Tahun ini, kaum Muslim di Singapura selama 1-29 September. Tanggal-tanggalnya sedikit berbeda dari tempat ke tempat di berbagai belahan dunia. Namun, 8 September berbeda dengan hari-hari lain di bulan Ramadan ini. Tidak seperti biasa berbuka puasa dengan sesama kaum Muslim, Abdeali mengundang teman-temannya yang beragama lain iftar, berbuka puasa. Kebersamaan sore itu di Muslim Kidney Action Association dihadiri sedikitnya empat suster Canossian, seorang uskup Gereja Methodis, sejumlah biksu Buddha, seorang swami Hindu, seorang imam Taois, seorang pertapa Jain, dan dua orang dari golongan Brahma Kumaris. Abdeali adalah ketua asosiasi itu. Asosiasi itu membantu para penderita ginjal dan mempromosikan sumbangan transplantasi ginjal. “Puasa merupakan satu dari lima pilar Ramadan. Praktek ini sudah ada bahkan sebelum muncul agama Islam,” katanya. “Ini adalah saatnya kaum Muslim merenungkan Kitab Suci untuk melihat sejauhmana mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan amal.” Abdeali menganggap kebersamaan dengan teman-temannya itu sebagai “suatu hal istimewa untuk dilakukan dalam bulan suci ini.” Aalasan lain Abdeali mengadakan buka puasa bersama teman-temannya itu adalah untuk menyambut kedatangan kembali biarawati Canossian, Suster Theresa Seow, setelah empat setengah tahun berkarya di Roma di Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Suster Seow mengatakan kepada UCA News, “merayakan buka puasa bersama komunitas Muslim itu merupakan suatu kesempatan untuk mengerti dengan lebih baik satu aspek imam mereka.” Biarawati itu menambahkan, “kita perlu mengerti pentingnya puasa ini, bahwa mereka berpuasa bukan hanya sekedar puasa makan dan minum dalam bulan suci ini.” Ketika di Roma, katanya: “Saya biasa menggunakan Singapura sebagai contoh untuk menjelaskan apa sesungguhnya hubungan antaragama itu. Hubungan antaragama itu bukan sekedar melakukan sesuatu secara bersama. Bagi saya, setiap hari itu merupakan suatu pengalaman antaragama.” Namun biarawati asal Singapura itu juga mengatakan, “sekalipun pemerintah telah berusaha memberi dorongan untuk dialog antaragama, saat akan tiba bahwa pemerintah akan lepas tangan dan masyarakat mengambilalih hal itu.” Dia dan Abdeali telah berteman lebih dari 15 tahun. “Kami berdua sangat yakin akan dan mempraktekkan kegiatan-kegiatan lintas agama,” kata Abdeali. Sharing pengalaman dalam pertemuan buka puasa itu dimulai oleh Suster Seow dan disusul oleh wakil-wakil lain dari berbagai agama. Iftar itu dimulai jam 7.10 sore dengan berbagi pengalaman, disusul dengan perjamuan makanan vegitarian yang dipersiapkan oleh Yang Mulia K. Gunaratana, seorang biksu Buddha. “Perjamuan vegitarian itu dimaksud untuk menghormati teman-teman kita yang beragama Hindu, Jain, dan Buddha, dan itu penting dalam membangun solidaritas,” jelas Abdeali. Suster Seow mengatakan dalam pertemuan itu bahwa walaupun dialog antaragama itu bukan tentang pertobatan, namun dialog itu bisa menghasilkan pertobatan, karena “saya belajar sesuatu yang baru tentang orang lain.” Ini benar bukan saja dalam dialog antara dua pribadi yang berbeda agama, tetapi juga antara dua orang yang sama agama, karena “tidak ada dua orang yang punya pengalaman yang sama tentang iman mereka.” Uskup Yap Kim Hao dari Gereja Methodis mengamati, “dialog antaragama lebih banyak terjadi di Malaysia daripada di Singapura, karena hidup di sini terlalu baik dan agama agama memampukan kita menghadapi kehidupan.” Dia menambahkan, “Kita perlu membuat orang, yang berpikir bahwa setiap orang perlu digiring ke agama mereka, itu yakin akan perlu pengertian di masa-masa damai, sehingga di masa-masa krisis kita semua dapat selamat.” Ketika UCA News menanyakan Suster Seow tentang nasehat apa yang ingin dia berikan bagi Gereja di Singapura, dia menjawab: “Seperti yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, dialog antaragama itu bukan suatu plihan tambahan. Jika kita mengadakan kegiatan-kegiatan lintas agama, tidak sedikit orang Katolik yang datang, tetapi jika kita bicara tentang pembinaan, tidak satupun yang mau datang. Gereja kita butuh adanya pembinaan umat kita, apa yang ingin diketahui untuk berdialog dengan orang lain secara tulus.” END Sumber: www.ucanews.com, 11 September 2008 |
DIarsipkan di bawah: EDITORIAL, berita, catatan harian, culture, dialog agama, kerukunan umat beragama, masalah sosial, peace, politics, religion | Ditandai: islam, Katolik, kristen






bersama para anggota keluarga menikmati makan kecil sebelum menunaikan doa pagi mereka.












