ARAH DASAR GEREJA KATOLIK INDONESIA

Arah Dasar ini diharap menjadi pedoman bersama serta arah pengutusan dalam mengabdi nusa dan bangsa Indonesia[1]. Tentu saja Arah Dasar ini perlu dihayati dalam kesatuan dengan seluruh Gereja Katolik semesta[2].

 

Arah dasar ini dapat dimanfaatkan oleh perseorangan atau pun kelompok-kelompok sebagai sarana untuk menciptakan atau memperluas cakrawala kebijakan dasar kelompok atau keuskupan-keuskupan. Diharapkan agar setiap orang katolik di keuskupan, paroki, dan semua perkumpulan kategorial gerejawi menghayati serta mengamalkan imannya sesuai dengan daerah dan pola kegiatan masing-masing, namun tetap dalam kesatuan Arah Dasar.

 

Gereja Diutus ke Seluruh Dunia

Jemaat kristiani Indonesia sudah hadir di Nusantara pada abad ke-7 di Barus, Sumatra untuk menjadi ‘saksi Yesus Kristus sampai ke ujung bumi’[3]. Kemudian Fransiskus Xaverius dan para murid Kristus lainnya sampai ke Maluku serta  serta pelbagai bagian Nusantara, membagikan Kabar baik kedatangan Kerajaan Allah, yakni kabar bahwa Allah memimpin seluruh umat manusia lahir-batin. Setelah itu, tidak sedikit rkyat Nusantara yang mengikuti jejak para bangsa, bagaikan mendengarkan pewartaan Petrus di hari Pentakosta[4], meminta dibaptis dan berusaha hidup sebagaimana diwariskan oleh Gereja Perdana. Mereka itu juga disukai semua orang[5]. Peristiwa itu masih berlanjut sampai saat ini sehingga umat lambat laun tumbuh dalam 36 keuskupan dan keuskupan agung, dari Sabang sampai Merauke. Pertumbuhan itu telah kita hayati kembali dalam beberapa pertemuan para waligereja Indonesia. Seluruh umat Katolik Indonesia, sendiri-sendiri ataupun dalamkelompok-kelompok pengabdian serta sebagai satu persekutuan, telah berusaha mengabdikan diri bangsa, negara dan masyarakat.

 

Tuhan Berperan dalam Sejarah

Dengan rahmat dan kekuatan Roh Allah, kita meneruskan cita-cita para leleuhur bangsa. Kita ingat anak cucu Abraham yang yakin bahwa dalam mencari sejarah kesejahteraan itu Allah mencintai mereka. Ketika kita mengalami betapa egoisme menggerogoti hidup bangsa, dan tatkala  kita menyadari bagaimana dosa membelit manusia dalam lingkaran setan yang rumit, kita terkenang akan Yesus Kristus, yang memerdekakan manusia dari dosa dan segala akibat dosa, karena manusia menolak kasih-sayang Allah.

 

Saksi Keselamatan

Guna menanggapi Karya Penyelamatan Allah itu, kita mau mewartakan Kabar Baik penyelamatanNya kepada sesama rakyat dalam segala segi dan lapisan hidup manusia serta seluruh bangsa[6].Oleh karena itu, demi Yesus Kristus serta dalam RohNya, yang menyertai orang beriman sampai akhir zaman, kita berusaha melibatkan diri tanpa henti, dalam berbagai bentuk, dalam setiap situasi dan kondisi masyarakat, selaras dengan tahap-tahap perkembangannya.

 

Pengutusan Gereja

Umat beriman diutus:

a.    menjadi persekutuan (koinonia) tanda dan sarana Kehadiran Kerajaan Allah, yang diwartakan oleh Putera Allah sendiri, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup[7] di tempat tinggal serta di lingkungan pengabdian masing-masing.

b.    Merayakan koinonia dalam ibadat dan membagikan iman dalam pewartaan serta bersama umat yang berlainan agama dan kepercayaan mau mendengarkan bisikan Roh, bagaikan nabi yang jeli dan berani menampilkan pesan keselamatan, dalam karya-karya pelayanan (diakonia).

 

Proses Membudaya

Kita berikhtiar agar terus menyadari bahwa proses bertaqwa bersama itu terlaksana dalam lingkup dan proses membudaya di tengah lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara. Semua itu terpadu dengan kebudayaan global.

 

Keterbukaan

Dalam perjalanan sebagai musafir, umat Katolik mau membuka diri. Kita mempersilahkan Tuhan mengutus kita sebagai saksi datangnya cinta Allah yang tanpa batas. Kesaksian itu terlaksana dalam membangun persatuan dengan seluruh bangsa Indonesia dari segala lapisan dan golongan, seraya mengupayakan kesejahteraan bersama yang lebih baik. Keterbukaan itu juga menghendaki agar kita mau secara bersama-sama mencari jalan-jalan baru, memanfaatkan penemuan-penemuan ilmu kemanusiaan dan ilmu alam yang semakin menyatukan seluruh umat Allah dan melestarikan alam ciptaan Allah.

 

Dialog Hidup.

Dalam kesatuan dengan peziarahan hidup seluruh insan beriman tersebut, kita menghayati pasang surut dinamika bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai dialog hidup. Umat Katolik bertekad mendukung segala upaya membangun pemerintahan yang makin bersih dan berwibawa, meneguhkan badan perwakilan rakyat yang lebih tanggap, berdaulat, dan menjaga demokrasi Pancasila yang berperikemanusiaan, serta memantapkan badan yudikatif yang lebih mampu menegakkan hukum secara menyeluruh. Dialog hidup itu berakar pada iman akan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Allah yang menjadi Bapa semua orang dan yang telah menyerahkan PuteraNya, agar RohNya hidup dan berkarya di dalam dunia[8].Sebagai kawanan kecil di antara umat yang beragama Islam, Hindu, Budha, Kristen Protestan, dan penganut agama-agama asli, umat Katolik dipanggil untuk membangun koinonia yang mengalirkan diakonia.

 

Gereja Indonesia

Dengan pendirian itu, kita ingin mengungkapkan penghayatan kita sebagai bagian integral rakyat Indonesia. Gereja Katolik Indonesia mau mencurahkan segenap tenaga guna menyingkirkan segala hal yang dapat memecahbelah persatuan bangsa Indonesia. Di tengah bangsa Indonesia itu kit berpadu dengan dengan seluruh Gereja semesta.

 

Pancasila

Semangat hendak menyelenggarakan dialog hidup itu menyebabkan kita dapat memandang segala masalah di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara memalui kesempitan kepentingan  golongan sendiri.Kita dipanggil supaya menggunakan cakrawala iman, yang merangkum segala hal demi keagungan Allah. Masalah-masalah politis, ekonomis, sosial, budaya, persekolahan, komunikasi sosial, pertahanan dan keamanan mendapat tempatnya yang selaras di dalam cakrawala tanpa batas iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Segala sesuatu dalam pembangunan ingin dirangkum dalam semangat persaudaraaan, dengan penuh rasa kemanusiaan sambil menjunjung tinggi persatuan bangsa. Kedaulatan rakyat ingin diwujudkan bersama keadilan sosial dallam segala segi dan tahap pembangunan sesuai dengan cita-cita Pembukaan UUD 1945.Begitulah kita memandang Pancasila dari lubuk hati yang terdalam, serasi dengan ajaran iman. Pancasila secara tulus kita akui sebagai dasar hidup bangsa yang merupakan jaminan kemerdekaan dan kesamaan kedudukan tiap warga negara.

 

Bhinneka Tunggal Ika

Hasrat persatuan yang menjiwai setiap keterlibatan membuat kita juga terbuka terhadap semua kekhususan semua pihak. Kesatuan mengijinkan adanya perbedaan dalam ciri setiap kelompok dan juga perbedaan cara dalam mencapai persatuan itu. Perbedaan pandangan diterima sebagai suatu potensi guna menemukan hal-hal yang lebih baik lagi dari pada sekarang yang sudah dimilii bangsa ini. Persatuan bangsa Indonesia mengijinkan perbedaan peran, yang sering berkaitan dengan perbedaan pendidikan, kedudukan sosial, dan profesi. Umat Katolik sendiri juga majemuk dan terdiri atas sekian banyak suku maupun golongan sosial. Ada orang Katolik yang berada, namun sebagian besar warga Katolik hidup dalam keadaan amat sederhana.

 

Subsidiaritas

Kebhinnekaan memungkinkan tata hidup bersama yang beraneka ragam. Dalam Gereja dan di dalam masyarakat diperlukan suatu iklim yang memungkinkan kita menjaga persatuan seraya memberi kesempatan kepada perseorangan dan persekutuan yang lebih kecil tumbuh sehat. Yang dapat mereka lakukan tidak selayaknya dilakukan oleh lembaga yang lebih tinggi. Di lain pihak, apabila kepentingan umum menuntut, lembaga yang lebih tinggi dapat memberikan arah sebagaimana disepakati bersama. Begitulah kita menjunjung tinggi prinsip subsidiaritas: prinsip yang memberikan tempat yang serasi  bagi kepentingan perseorangan, kepentingan kelompok, dan seluruh rakyat secara proporsional dan wajar.

 

Gereja Sungguh Indonesia

Dalam melaksanakan tekad tersebut, kita berpegang teguh pada ajakan pahlawan nasional, Mgr. A. Soegijapranata, S.J. supaya menjadi sepnuh-penuhnya beriman Katolik dan seutuh-utuhnya berjiwa Indonesia. Masih teringat jelas bahwa pada kunjungannya ke Indonesia, Paus Johannes Paulus II juga meminta umat Katolik Indonesia menjadi betul-betul Indonesia dan sungguh-sungguh Katolik. Kita bertekad hendak terus menerus melibatkan diri dalam pembentukan hidup berkeluarga, politik dan ekonomi demi kesejahteraan rakyat dan negara; mengabdi diri dalam pendidikan, kesehatan, komunikasi massa, pelbagai karya sosial, dan amal di tengah rakyat. Sebab kita adalah anak-anak satu Allah yang bersikap bagaikan Bapa kepada umat manusia.

 

Hidup Berkeluarga

Kita berhasrat mewujudkan masyarakat yang bertumpu pada hidup berkeluarga yang sehat[9]:

a.    yang betul-betul merupakan kancah tempat laki-laki dan perempuan secara sepadan saling membangun kasih dalam suka dan duka serta mendidik anak sebagai buah cinta yang tumbuh dalam kemandirian yang bersifat sosial;

b.    Yang memungkinkan seorang pria dan seorang wanita tumbuh sebagai kesatuan pribadi yang penuh kasih dengan menghargai kekhasan serta potensi masing-masing;

c.    Yang menjadi awal pendidikan citarasa Katolik, berupa pendidikan nilai, khususnya bimbingan berkomunikasi  antar  generasi yang menghargai sejarah masa silam  dan terbuka terhadap aktivitas baru;

d.    Yang mewariskan tradisi-tradisi kemanusiaan yang sehat serta membangun tradisi-tradisi keluarga kristiani yang menghormati sejarah dan kreatif menciptakan pola-pola hidup bersama yang baru;

e.    Yang mengembangkan badan yang bugar, jiwa yang sehat, kepandaian yang berdayacipta, keterampilan yang membekali hidup anak-anak, kesalehan yang mengokohkan hidup rohani seluruh anggota keluarga;

f.    Yang tidak hanya merupakan kesatuan ke dalam tetapi ke luar juga mampu berperan konstruktif dalam pengabdian gerejawi dan kemasyarakatan;

g.    Yang melihat pengutusannya dalam menyiapkan tenaga kemasyarakatan yang andal dan tenaga gerejawi yang terlibat, serta juga mampu menumbuhkan panggilan hidup rohani bagi Gereja.

 

Hidup Politik

Kita mendambakan pembangunan politik yang berperikemanusiaan melalui:

a.    pembentukan kehidupan bernegara yang menghormati hak-hak asasi manusia denga semangat solider sejati; dalam kerangka ini kaum wanita sepatutnya semakin mendapat tempat dalam pengambilan keputusan;

b.    pengembangan kehidupan kenegaraan dengan sistem demokrasi yang memungkinkan pelaksanaan Pancasila sebagai ideologi terbuka dan UUD 1945 secara konsekwen;

c.    pembangunan sistem hukum nasional yang adil secara demokratis sebagai penjabaran cita-cita negara hukum;

d.    pembinaankehidupan kepartaian yang bebas dan adil ke arah partisipasi rakyat yang merata serta berpedoman “salus populi suprema lex”;

e.    pengembangan sistem keberimbangan kekuasaan  yang kreatif dan dinamis seraya mengandalkan integritas pribadi pejabat;

f.    penyusunan kehidupan bermasyarakat yang ditandai kemajemukan yang bebas, dinamis dan berwawasan kebangsaan;

g.    pembangunan hidup bersama yang menciptakan rasa-aman lahir-batin dengan kemampuan bela-negara yang serasi;

h.    hidup kemasyarakatan yang berfokus pada proses pemberdayaan setiap lapisan masyarakat dengan terus menerus memperluas kalangan yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

 

Hidup Ekonomi

Kita pun mencita-takan pembangunan ekonomi yang berkeadilan:

a.    yang menjunjung tinggi martabat manusia, tidak meremehkan atau mengabaikan hak asasi manusia karea mengejar target atau hasil lahiriah tertentu; dengan demikian manusia tidak menjadi sekedar angka atau sumber daya bagi ekonomi; terutama tenaga kerja wanita dan anak-anak pantas mendapat pembelaan yang lebih tepat guna;

b.    yang menghargai manusia sebagai pelaku ekonomi yang terpenting, karena menjadi asal, isi, tujuan dan muara segala kegiatan ekonomi sehingga pemberdayaan usaha rakyat kecil merupakan poros segala gerak ekonomi;

c.    yang menjamin peran serta semua warga negara di dalam bidang ekonomi, dengan tidak melalaikan ‘kaum marjinal’; dengan demikian, usaha-usaha ekonomi memang mendukund pelaku-pelaku ekonomi agar cukup dapat berperan secara global, namun terus menerus mencari jalan agar pemerataan upaya penyejahteraan menjadi kenyataan;

d.    yang merangsang terbentuknya kemitraan dan jaringan kerjasama antara semua pihak berpegangan pada Code of Conduct yang bercirikan keadilan sosial;

e.    yang secara berdayaguna menciptakan mekanisme untuk mencegah perluasan korupsi.

 

Hidup Budaya

Kita merindukan pembangunan kebangsaan dan kebudayaan:

a.    yang dengan sekuat tenaga berusaha memupuk dan mengembangkan persatuan bangsa, agar jangan sampai terjadi pengkotak-kotakan di dalam masyarakat karena suku, ras, kedaerahan, dan agama atau kepercayaan yang berbeda;

b.    yang menjamin persatuan sejati seluruh bangsadenga menjamin hak serta kewajiban semua orang berperan-serta di dalam pembangunan kebudayaan nasional yang terbuka dan beradab selaras dengan tuntutan perkembangan dan perubahan zaman; budaya menghargai kesepadanan peran laki-laki dan perempuan perlu lebih diupayakan;

c.    yang menumbuhkan, mengembangkan, memelihara dan menyuburkan wawasan kebangsaan, sehubungan dengan adanya peralihan generasi, dari  generasi 45 yang, mengalami secara langsung perjuangan mempersatukan bangsa ini, ke generasi penerus, yang tidak mengalami hal tersebut. Pada masa mendatang perlu dicari ungkapan wawasan kebangsaan baru dengan beertumpu pada kejujuran dalam memandang masa silam serta kebesaran hati dalam menyambut masa depan;

d.    pembangunan kebudayaan nasional membutuhkan pengembangan kebudayaan setiap daerah secara terbuka. Sebab justru kebudayaan daerah itu dapat menciptakan kebudayaan nasional yang berakar pada situasi dan kondisi masyarakat yang nyata. Dalam pada itu, kebudayaan nasional seperti itu akan memiliki ketangguhan dan kelenturan yang memadai dalam mengintegrasikan pengaruh proses globalisasi secara terbuka.

 

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kita mengharapkan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat:

a.    ilmu pengetahun dan teknologi modern adalah bagian dari peradaban baru yang berkembang sebagai buah dari pikiran dan perasaan manusia. Isi dan tujuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi adalah daya-daya manusia yang mulia. Oleh sebab itu kita harus ikut menjaga, agar ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa mengabdi kesejahteraan manusia sedalam-dalamnya dan tidak dipergunakan untuk merosotkan martabat manusia;

b.    pembangunan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi  memang diperlukan dalam membangun dan memajukan bangsa. Namun perlu dipikirkan dan dijaga  agar kelsetarian lingkungan hidup tidak dirusak oleh pembangunan tersebut; kita perlu menciptakan hidup keilmuan dan teknologi yang mengabdi kebutuhan kesejahteraan serta tidak tinggal di lapisan dangkal yang terlalu  pragmatis dan oportunistis;

c.    ilmu pengetahuan dan teknologi harus sungguh-sungguh dihayati sebagai karunia Tuhan untuk memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan alam secara manusiawi; dalam pada itu juga sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat disalahgunakan untuk kepentingan sekelompok orang atau seseorang sehingga merugikan kesejahteraan bersama;

d.    generasi muda perlu dididik dan diberi kesempatan agar dapat ikut ambil bagian dalam pembangunan dan penguasaan ilmu pengetahuan  dan teknologi sampai memiliki keilmuan yang tangguh dengan dasar etika ilmu  yang bertanggung jawab.

 

Pendidikan dan Persekolahan

Kita meneruskan tekad ikut mendukung usaha pendidikan dengan visi bersama yang luas dan yang:

a.    memungkinkan manusia muda menemukan dan mengembangkan dirinya dalam kesatuan dengan sesama  dan selueuh alam semesta; alam upaya tersebut  pada pokoknya kita mewariskan dan mengembangkan nilai-nilai dasar manusiawi;

b.    memberi bekal kepada manusia muda membangun masa depannya, supaya memiliki kepandaian, kepribadian, keterampilan, keahlian dan kemampuan mengambil keputusan dengan suara hati yang tepat sebagai orang beriman;

c.    menyediakan pembimbing-pembimbing yang penuh keterlibatan dan perhatian pada peserta didik; untuk itu diperlukan lebih banyak alternatif penyediaan pendidik yang berdedikasi, berketerampilan dan memperoleh prasarana yang memadai;

d.    dapat berdiri di atas kaki sendiri dalam interaksi sehat dengan orang tua, negara, lembaga-lembaga keagamaan, dan pelaku-pelaku media serta seluruh sektor kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;

e.    menolong terbentuknya gerakan-gerakan dan organisasi kaum muda yang memungkinkan interaksi optimal antara pria dan wanita dengan semangat kebangsaan yang terbuka;

f.    merangsang terbentuknya lingkaran-lingkaran penelitian dan pengembangan masalah kepemudaan;

 

Kesehatan

Kita mengharapkan terbentuknya budaya masyarakat dan bangsa yang sehat dengan prinsip dasar menghormati pribadi manusia sebagai pribadi dan makhluk sosial yang diciptakan menurut citra Allah, sehingga:

a.    mampu memelihara seniri kesehatannya dan aneka usaha meningkatkan derajat kesehatannya, termasuk olah raga;

b.    mampu menyediakan pelayanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat, baik di kota maupun di desa, sehingga tidak menumpukkan sarana kesehatan  hanya di beberapa pusat kekuasaan;

c.    menciptakan sistem pembiayaan kesehatan sehingga sebanyak mungkin rakyat dapat menjangkau pelayanan penyehatan yang dibutuhkannya;

d.    meratakan tenaga-tenaga kesehatan, meningkatkan kemampuan mereka, serta menyediakan tenaga kesehatan yang memadai etika dan moralnya;

e.    menggalang kerjasama semua pihak untuk mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan;

f.    merangsang terbentuknya pusat penelitian dan pengembangan etik yang menolong para ahli dan praktisi guna membela kehidupan secara terencana;

g.    memajukan pergaulan yang saling menghargai dan setia  anatara laki-laki dan perempuan sehingga ikut serta dalam mencegah meluasnya ancaman HIV/AIDS.

 

Komunikasi Sosial

Kita ikut berperan dalam dunia media yang semakin menciptakan persaudaraan global, menjadi sarana informasi, hiburan dan pendidikan tak terperi, namun kadang kala juga menyodorkan tantangan bagi suara hati kita. Kita ingin memperjuangkan media yang:

a.    menolong seluruh umat dan bangsa mencari kebenaran sebagai dasar kehidupan bersama yang sehat[10];

b.    menyediakan informasi, pendidikan dan hiburan sehat kepada semua yang tersangkut;

c.    menyediakan pelaku-pelaku media yang memiliki suara hati yang jernih, dan yang peduli dengan persoalan rakyat kebanyakan;

d.    menolong seluruh bangsa membuka cakrawala seluas dunia dan mengembangkan kebudayaan secara terbuka;

e.    mendidik rakyat untuk mempunyai sikap kritis yang sehat  dan daya tangkal yang tinggi terhadap segala bahaya globalisasi yang mengancam hidup pribadi, hidup keluarga dan persatuan kita dari media;

f.    mendukung semua usaha untuk perlakuan wajar dan penuh hormat terhadap wanita di dunia hiburan.

 

Membangun Gereja

Kita membangun terbentuknya tradisi Gereja Indonesia yang tanggap pada masyarakat setempat seraya terbuka pada kebudayaan global dan Gereja semesta: suatu koinonia yang mengalir dalam diakonia:

a.    Gereja yang semakin merupakan persekutuan umat beriman bergaya sinodal-kolegial dengan mekanisme pengambilan keputusan yang partisipatif, meninggalkan pola feodal dan piramida klerikal; hal itu dapat semakin mengikutsertakan wanita dalam pengambilan keputusan;

b.    Gereja yang mampu membentuk cara-cara hidup, pola kerja dan modal layanan yang solider dengan rakyat jelata sebagai tanda dan sarana kehadiran kasih Allah di dunia ini secara profetik;

c.    Gereja yang memiliki kemandirian sedemikian sehingga mampu berdialog secara leluasa dengan semua pemeluk agama lain;

d.    Gereja yang mempunyai kepercayaan yang begitu besar kepada kuat-kuasa Kerajaan Allah sehingga mampu bertahan dalam segala suka dan duka pergumulan hidup yang tanpa henti;

e.    Gereja yang dapat mencukupi sendiri kebutuhan akan pemimpin awam, biarawan/wati, dan rohaniwannya sehingga menyelenggarakan pendidikan-pendidikan kader segala bidang secara terencana;

f.    Gereja yang mampu menciptakan pola-pola ibadat selaras dengan kondisi tempat dan kelompok;

g.    Gereja yang membangun lingkaran-lingkaran pengembangan dan penelitian untuk menyediakan kelompok pemikir tangguh dalam kepemimpinannya.

 

Hak Asasi Manusia

Sebagai dasar-pijak bersama, dalam pelbagai bidang pembangunan tersebut haruslah dijunjung tinggi hak-hak asasi bagi setiap warga negara sebagai manusia, tidak hanya karena tuntutan politis tetapi karena manusia itu  makhluk lhuru ciptaan Allah[11].Hak asasi manusia tidak diberikan oleh negara  atau masyarakat, tetapi sudah dipunyai manusia sejak diciptakan Tuhan. Diantaranya hak untuk hidup, hak untuk memeluk dan melaksanakan agama, serta hak untuk membangun keluarga selaras dengan keyakinannya. Begitulah kita bertekad terus terlibat dengan cita-cita  yang menjiwai para pendahulu  dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, sebagaimana terungkap dalam Pancasila yang dirumuskan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

 

Demikianlah kiranya, Arah Dasar Gereja Katolik Indonesia ini seyogiyanya diperhatikan dalam penyusunan kurikulum pembinaan iman anak dalam rangka pemberdayaan komunitas basis gerejani dan penciptaan habitus baru.Selamat menyusun contoh modul pembinaan iman anak Gereja Katolik Indonesia.

 

Sumber: Hasil SAGKI 1995



[1] Terutama ingin “Pedoman Kerja Umat Katolik” dari Tahun 1970 dan Dokumen-dokumen PNUKI 1984 serta aneka buah pikiran para Uskup dalam mencari penjabaran hidup kristiani dalam masyarakat Pancasila

[2] Di balik naskah ini ada dorongan dari peringatan 100 tahun “Rerum Novarum” yang sangat erat berkaitan dengan tinjauan mengenai pelaksnaan keputusan-keputusan Konsili Vatikan II

[3] Kis 1: 8

[4] Kis 2:1-40

[5] Bdk. Kis 2:40-47

[6] Bdk. Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang “Gereja dalam Dunia”, art. 42

[7] Yoh 14:6

[8] Surat Paus Johanes Paulus II “Dominum et Vivificantem”, art. 1..

[9] Bdk. Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai “Gereja dalam Dunia”, art. 50

[10] Bdk. Aetatis Novae 14

[11] Kej 1:26-27

Leave a Reply